Catatan Pernikahan bagian 3 : Hubbul Iman

October 22nd, 2008 by anichristina

Beberapa hari yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman sesama ibu rumah tangga. Saya menyatakan bahwa pernikahan itu sungguh adalah sebuah tanda kebesaran ALLAH…begitu banyak kejadian yang merupakan karunia datang setelah kita menikah…Ketika dahulu masih sendiri, mungkin ada teman-teman dekat dan keluarga yang begitu memperhatikan kita, tetapi pasangan hidup kita adalah seseorang (yang mulanya orang lain) kemudian menjadi begitu perhatian dan mencurahkan segala yang dia miliki untuk kebaikan pasangannya. Tidakkah itu suatu tanda kebesaranNYA?

Betapa indahnya ketika menghayati bahwa dengan menikah itu adalah sebuah kesempatan untuk semakin dekat dengan Sang Pencipta. Betapa tidak? Ketika keindahan, kebahagiaan yang dirasakan maka kepada siapa kita ingat untuk bersyukur? Tentu kepada Allah SWT yang telah menjadi penyebab ini semua mungkin terjadi. Ketika masalah-masalah ringan, masalah-masalah besar mulai datang, maka kepada siapa kita akan mengadu kalau tidak kepada Allah..sebab mengadu pada sesama manusia hanya akan menambah malu dan sekaligus menambah dosa. Oleh sebab itu, ketika waktu bergulir dalam kehidupan pernikahan dengan segala dinamikanya maka tiada lain itulah datangnya kesempatan untuk semakin mendekat pada-NYA…

Maka teringatlah sebuah nasihat dari sahabat lamaku : Wahai para wanita, jika dulu bakti pertamamu pada sesama manusia (setelah ketaatan pada Allah tentunya) adalah kepada kedua orangtuamu, maka sejak engkau menikah, bakti pertamamu adalah kepada suamimu. Dan tahukah enagkau, ketaatan seorang istri pada suaminya adalah salah satu jalan menuju surga Allah…Subhanallah…

Berbakti pada orangtua pastilah dilandasi dengan cinta, begitu pula taat pada suami pastilah dilandasi cinta. Tapi tentunya, cinta kepada orangtua berbeda dengan cinta kepada suami.

Orangtua adalah seseorang yang kita kenal sejak masih kecil, yang sepanjang hidup, kita rasakan jasa-jasanya, segala kebaikannya dalam melimpahkan kasih sayangnya pada kita, yang darahnya mengalir di dalam darah kita. Maka, mencintai dan kemudian berbakti pada orangtua bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan…Seolah-olah sudah menjadi respon alamiah dalam jiwa kita untuk membahagiakan mereka. Sahabatku bilang, dalam kajian Islam ini disebut HUBBUL FITRIYAH, cinta yang berasal dari fitrah manusia.

Suami, pada mulanya adalah orang lain, yang mungkin baru kita kenal menjelang menikah. Dimana sebagian besar gambaran dirinya yang asli baru kita ketahui setelah menikah…Dan bahkan, dengan latar belakang yang berbeda kemudian perbedaan selalu muncul dalam keseharian sehingga yang muncul adalah gesekan-gesekan. Lalu bagaimana caranya melakukan ketaatan pada sosok suami dengan kondisi demikian. Sungguh, hanya bekal iman kepada ALLAH yang akan memudahkan proses itu. Keyakinan bahwa pasangan hidup kita, yang telah mulai dengan sebuah perjanjian akad nikah di depan ALLAH, adalah sosok terbaik yang dipilih oleh ALLAH untuk kita. Keyakinan bahwa dengan berbuat baik terhadap istri adalah amanah dari ALLAH yang harus dipertanggung jawabkan di akhirat. Keyakinan bahwa ketaatan pada suami adalah bentuk ibadah mulia, yang akan mengantar para wanita menuju surga.

Dengan adanya hati yang mudah terbolak-balik dan iman yang biasa naik turun, cinta pada pasangan juga bisa mengalami pasang surut. Jikalau iman kita pada ALLAH sedang baik, insya Allah ketaatan kepada suami akan menjadi sesuatu yang mudah, cinta kepada istri menjadi sesuatu yang indah. Tetapi jikalau iman kita pada ALLAH sedang turun, maka ketaatan itu menjadi sesuatu yang sulit..cinta kepada istri menjadi suatu beban…Sahabatku bilang, cinta pada suami ini disebut HUBBUL IMAN, cinta yang dilandasi dengan iman kepada ALLAH.

Oleh karena itu, setiap kali teringat kita perlu panjatkan doa agar keimanan kita bisa meningkat, tidak sampai turun, agar kita bisa pertahankan cinta kita pada pasangan hidup kita hingga di akhir hayat…seraya terus bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan ALLAH, serta bersabar atas setiap masalah yang datang…sebab masalah-masalah itulah yang menguji keimanan kita, sehingga ketika kita bisa melampauinya maka derajat keimananan kita akan meningkat juga…Amin..Allahuma Amin.

Catatan Pernikahan Bagian 2 - Surat Sederhana Buat Suamiku

August 25th, 2008 by anichristina

Suamiku, seratus hari sudah berlalu. Masih teringat jelas dalam memori otakku detik-detik bahagia itu. Detik di mana malaikatpun ikut mendoakan kita. Detik di mana gerbang kebahagiaan akan kita lewati dengan ikatan perjanjian yang kuat. Kebahagiaan adalah sebuah kata yang bisa mewakili awal dari perjalanan kita. Ingatkah masa sebelum menikah, dimana kita tersiksa oleh keinginan untuk segera bersama, didera kerinduan untuk mencurahkan rasa sayang? Betapa bahagianya ketika telah menikah, kita bisa menunaikan hasrat yang terpendam itu. Betapa indahnya pula kebersamaan itu dihiasi oleh perasaan senasib sepenanggungan.

Sayangku, seringkali teringat di benakku nasehat sahabat kita : seberapa kecil pun perilaku negatif seorang istri, maka itu akan menjadi percikan api neraka buat suami. Sungguh, aku telah berusaha untuk menata pikiranku, mengelola sikap, dan menjaga perilaku agar terhindar dari keburukan. Setiap kali akan melangkah, teringatlah nasehat ini dan kupikir dalam-dalam apakah yang kulakukan sudah baik sebab aku tidak akan rela orang yang aku cintai mendapat percikan api neraka sesedikit apapun itu. Namun, dalam seratus hari pernikahan kita tentunya masih ada perilaku yang kurang baik entah karena khilaf, tidak sadar, tidak tahu, atau hati sedang terkuasai emosi. Sungguh, aku memohon maaf atas perilaku-perilaku itu. Aku memohon keridhaanmu untuk terus membimbing aku agar lebih baik.

Suamiku, telah kutahu sejak sebelum menikah bahwa setelah menikah bakti seorang wanita kepada sesamanya, yang pertama adalah pada suaminya. Sayangku, aku telah mulai mencoba melakukkannya sebab aku yakin ketaatan pada suamiku akan mengantarku ke surga Allah kelak. Namun, mungkin dalam beberapa situasi, aku belum dapat memenuhi harapanmu tentang ketaatan itu. Aku masih berusaha mengenal dirimu, apa yang engkau harapkan, apa yang engkau sukai, apa yang membuatmu tidak berkenan, dan seterusnya. Proses belajar kita tidak akan cukup dengan kata-kata dalam tutur bicara kita, tidak cukup dengan pemahaman kita atas setiap bahasa tubuh yang ada, ada banyak hal yang perlu kita selami dan semuanya butuh waktu. Aku berharap kesabaranmu untuk terus belajar bersamaku.

Sayang, aku ingin selalu menjadi bidadari untukmu. Tidak hanya di dunia sekarang, tapi juga sampai ke surga Allah kelak. Maka, tak akan mudah seperti yang ku bayangkan untuk mencapainya. Aku juga perlu bantuan dan dukunganmu, wahai suamiku. Ingatkanlah dengan tegas setiap kesalahanku namun dengan kelembutanmu. Bimbinglah isterimu ini untuk meraih ridho dari mu dan terutama ridho dari Allah.

Sekian surat dari ku untukmu suamiku. Kutitipkan doa di dalam surat ini, doa semoga keberkahan Allah senantiasa terlimpah pada pernikahan kita, kupanjatkan doa ini dengan penuh cinta kasih sayang hanya untukmu.

Bumi Allah, tepat seratus hari pernikahan kita

(Surabaya, 080808)

Catatan Pernikahan bagian 1

July 21st, 2008 by anichristina

Hal pertama yang disampaikan orang yang begitu mencintaiku dan juga aku cintai bukanlah : AKU CINTA PADAMU tetapi AKU MAU MENIKAH DENGANMU

Sesuatu yang ditanyakannya lebih dulu padaku bukanlah : APAKAH KAU MENCINTAIKU? tetapi MAUKAH KAU BERIBADAH BERSAMAKU DI JALAN ALLAH?

Kalimat AKU MENCINTAIMU baru terucap jauh setelah komitmen kebersamaan itu ada, setelah keraguan tentang melaju bersama itu hilang, setelah keyakinan untuk bergandengan tangan itu menjadi terpatri di hati masing-masing…dan setelah itu pertanyaan tentang KENAPA KAU MENCINTAIKU? maka jawabannya bukan karena kekayaan, ketampanan, kecantikan, atau yang lain tetapi bukan juga tanpa alasan. AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH

Jangan pernah meminta ketegasan dari seseorang APAKAH DIA MENCINTAIMU, carilah ketegasan di dalam dirimu sendiri KENAPA KAU MENCINTAINYA, DAN UNTUK APA?

Dan pada saatnya nanti, CINTA YANG SESUNGGUHNYA tidak akan pernah terwakili dengan pertanyaan atau ucapan AKU MENCINTAIMU tetapi cinta itu mesti disampaikan dengan segala cara di dalam keseharian..dengan caramu memandang matanya, dengan caramu membelai rambutnya, dengan caramu memeluknya, dengan caramu memenuhi kebutuhannya, dengan caramu memarahinya ketika salah, dengan caramu memaafkan ketika dia khilaf, dengan caramu mengingatkan ketika dia lengah, dengan caramu menghibur ketika dia sedih, dengan caramu berbagi kebahagiaan, dengan caramu membuat dia merasa penting, dengan caramu menghargai keputusannya, dengan caramu membantu menyelesaikan masalahnya, dengan caramu meminta pertimbangan padanya, dengan caramu mendoakan dia di dalam ibadahmu, dengan caramu bersyukur pada ALLAH atas kehadiran dirinya, dengan caramu bersabar atas UJIAN ALLAH atas dirimu dan juga dirinya…itulah caramu untuk menyampaikan cintamu..__,_._,___

Doa Insan Yang Jatuh Cinta

February 15th, 2008 by anichristina

Ya Allah, Engkau telah pertemukan dua insan ini dengan kekuasaan-Mu, maka tuntunlah kami untuk melangkah dalam menggapai ridho-Mu.

Ya Allah, Engkau telah pertautkan hati kami dengan ijin-Mu, maka jadikanlah pertautan hati ini dalam naungan kasih sayang-Mu.

Ya Allah, Engkau telah anugerahkan perpaduan jiwa kami dengan kehendak-Mu, maka tetapkanlah perpaduan jiwa ini dalam limpahan rahmat-Mu.

Bagai Pungguk Menggapai Bulan

February 2nd, 2008 by anichristina

Stephen Covey dengan Seven Habbit-nya mengenalkan kita pada sebuah istilah : keluar dari zona aman. Untuk meraih sebuah perubahan menuju kesuksesan kita harus mampu membuat revolusi diri dengan keluar dari zona yang membuat kita merasa aman sehingga cenderung sulit bergerak ke arah atau tempat yang baru. Terminologi revolusi diri bisa dioperasionalkan dengan sebuah contoh yang indah yaitu mem’pleset’kan idiom terkenal "bagai pungguk merindukan bulan"  menjadi idiom baru "bagai pungguk menggapai bulan". Idiom lama berarti seseorang yang memiliki keinginan tinggi hingga itu tidak mungkin diwujudkan. Sedangkan idiom baru diartikan seseorang yang mau berjuang untuk meraih keinginannya yang tinggi, yang dalam pandangan mata umum adalah sesuatu yang tidak umum dicapai, tetapi dengan usaha keras, doanya kuat, dan tentu saja atas kehendak-Nya, keinginan tinggi itu kemudian tercapai. Jikalau Allah menghendaki, adakah sesuatu yang menghalangi? Jikalau seseorang mau berusaha, berjuang sekuat tenaga, kemudian mengiringinya dengan doa yang kuat, adakah sesuatu yang tidak mungkin?

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman menunjukkan kepadaku sebuah cerita pendek karya Asma Nadia berjudul Cinta Laki-laki Biasa. Bersama-sama, kami berdua membaca cerita tersebut dan terharu bersama pula, tersentuh oleh maknanya. Aku langsung teringat dengan idiom ”Bagai pungguk menggapi bulan” itu…Berikut ini petikan ceritanya :

MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkansurat undangan.

Mulut Nania terbuka.Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

"Kamu pasti bercanda!"
"Nania serius!" tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

"Tidak ada yang lucu," suara Papa tegas, "Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

"Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan?" Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, "maksud Mama siapa
saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?"

Nania terkesima. "Kenapa?"

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga
juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.
Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

"Nania Cuma mau Rafli," sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.
Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

"Tapi kenapa?" Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa. Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. "Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania."

"Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu."

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang.

"Tak apa," kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri.
"Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang." Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik.
"Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?" Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya. Tak imbang!

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

"Bang?" Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

"Dokter?"
"Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar."

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal. Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.
"Pendarahan hebat." Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan
entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat
seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai
empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU.
Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan
bercanda mesra. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
"Nania, bangun, Cinta?" Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,
"Nania, bangun, Cinta?" Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta. Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

"Baik banget suaminya!"
"Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!"
"Nania beruntung!"
"Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya."
"Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!"

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa? Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir daritangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Cerita di atas bukan sekedar menunjukkan kisah ”pungguk menggapai bulan” tetapi lebih membuktikan tentang kekuasaan dan kehendak Allah dalam mengatur segala sesuatu. Kita yakin, Allah menetapkan segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Kadangkala manusia memang tidak bisa membaca kebaikan-kebaikan itu. Dengan kacamata manusia mungkin saja suatu peristiwa atau kejadian dinilai ”tidak imbang, tidak adil, dst”, tetapi yang ditetapkan Allah itulah yang terbaik. Teringat suatu kajian bahwa Allah menjanjikan bahwa manusia akan menerima sesuatu sesuai dengan kesanggupannya (Al Baqoroh : 286). Dan sebuah ketegasan disampaikan Allah dalam ayat-Nya yang lain  : ”Bisa jadi apa yang engkau benci itu baik bagi kalian. Bisa jadi juga apa yang engkau sukai itu buruk bagi kalian. (QS. Al-Baqarah: 216). Dalam konteks cerita dari Asma Nadia di atas (yang katanya based on true story), ingatlah sebuah firman Allah : Perempuan-perempuan jahat untuk lelaki-lelaki jahat, lelaki-lelaki jahat untuk perempuan-perepuan jahat.Perempuan-perempuan baik untuk lelaki-lelaki baik, lelaki-lelaki baik untuk perempuan-perempuan baik pula. (Q.S. An-Nur: 26). Allah Maha Berkuasa Atas Segala Sesuatu.


Drama Itu Mengalir Dalam Darahmu

January 3rd, 2008 by anichristina

Seseorang berkata padaku, seolah-olah dia sudah begitu mengenal dan memahamiku, "Drama itu mengalir dalam darahmu", benarkah ungkap itu? Benarkah dia begitu memahami aku?

Aku suka musik instrumentalia. Kataku, aku suka musik itu karena aku sangat menikmati nada-nada tanpa kata-kata. Aku masih ingat, aku mulai mengenal jenis musik itu ketika usia 13 tahun, semenjak bergabung dengan kelompok Teater Jendela. Musik instrumen sangat sering digunakan sebagai background drama, sandiwara, fragmen, pembacaan puisi, pementasan gerak teaterikal, atau pertunjukan apapun. Musik benar-benar akan menjadi penguat dalam sebuah pertunjukkan, menjadikan pertunjukkan itu hidup, mengukuhkan makna dalam cerita yang disajikan, menjadi kunci suasana menjadi dramatis dan menyentuh hati. Aku berinteraksi dengan musik itu sampai SMA dalam situasi teater juga, hanya ganti komunitas, namanya Teater Kata. Menginjak bangku kuliah, aku masih tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan musik ini, bahkan menemukan sebuah pola bahwa ketika aku bekerja (baca : mengerjakan tugas-tugas kuliah) terasa lebih optimal ketika ditemani musik. Bahkan sampai aku benar-benar bekerja (baca: sering berada di depan komputer) tetap mengoptimalkan diri dengan menggunakan musik instrumen sebagai teman kerja. Dan, sejujurnya, sebelum aku tahu berbagai macam kajian ilmiah tentang manfaar musik instrumen untuk menjadikan proses otak lebih lebih baik, aku sudah amat sangat menikmati musik ini. Apalagi semenjak tahu banyak manfaatnya, semakin kuatlah kebiasaan itu.

Aku suka baca novel, roman, dan sekaligus menonton film drama. Kataku, aku suka itu karena aku sangat tertarik pada kisah-kisah manusia, roman adalah sesuatu yang sangat mempesona bagiku. Aku mengagumi tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, karakter-karakter mereka yang unik, sosok-sosok mereka yang berbeda satu sama lain memperkaya sudut pandangku tentang manusia. Aku sering terpesona oleh alur cerita dalam novel atau film itu, sebab alur itu seperti sebuah cerminan realitas yang sesungguhnya, yang bisa jadi bahan refleksi kita tentang apa makna kehidupan. Cerita-cerita yang disajikan dalam bentuk dialog ataupun deskripsi menjadi sesesuatu yang dramatis, romantis, kadang juga tragis. Jalinan peristiwa dalam cerita itu menyajikan berbagai macam emosi yang turut menyentuh emosiku, menjadikan aku belajar banyak tentang empati.

Aku suka menulis. Kataku, aku suka menulis karena aku rasa menulis sudah jadi bagian hidupku. Aku sudah suka menulis sejak aku bisa menulis dengan baik, mungkin umur 7 tahun. Waktu itu aku menulis pengetahuan apapun yang menurutku menarik. Aku lihat peta, aku tulis kembali (dalam bentuk kelompok kata) nama-nama pulau, sungai, gunung, kota, dan semacamnya. Bertambah umur, aku mulai kaya kosakata, dan mulai suka membaca buku cerita dan mendengar cerita di radio, sebagian besar aku tuliskan kembali di buku tulis. Bertambah usiaku, aku mulai bisa menciptakan karya sendiri, puisi seorang remaja yang terinspirasi dari nuansa pubertas tentunya. Memasuki dunia teater, semakin sering menulis terutama dalam bentuk naskah drama dan puisi. Baru ketika menginjak bangku kuliah, aku belajar menulis sesuatu yang lebih ‘berat’, seperti esai, artikel, karya ilmiah, dan berbagai desain proyek pelatihan-penelitian. Ketika bekerja, aku mulai menulis buku…wah keren. Satu cerita yang tersisa, bahwa sejak aku umur 13 tahun sampai umur 23 tahun aku menulis diari atau catatan harian yang menjadi rekaman peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupanku, pemikiran-pemikiran yang berkutat di otakku, dan perasaan-perasaan yang bergelayut dihatiku. Aku menulis catatan harian ini sebagai bentuk ekspresi diri, yang kadangkala memang tidak begitu mudah bagiku mengekspresikan secara verbal atau lisan. Catatan harian ini, tentunya menjadi sebuat potret drama kehidupanku.

Seseorang yang berkata padaku bahwa "Drama itu mengalir dalam darahmu", dia ternyata memang benar-benar mulai bisa mengenal dan memahamiku aku…Katanya, dengan "drama" yang mengalir dalam "darah"ku itu, maka aku jadi seorang pemikir, seorang perasa, seorang yang melankolis, seorang yang mbulet, sulit dipahami jalan pikirannya, susah mengambil keputusan dalam hidup…layaknya sebuah DRAMA…

Terimakasih karena mau memahamiku dan tidak pernah berkehendak untuk memaksaku berubah, meskipun berbeda sedemikian rupa…

Meluruskan Niat dalam Sertifikasi Guru

December 17th, 2007 by anichristina

Pokoknya dapat sertifikat!”, teriak sekelompok guru dalam sebuah kegiatan seminar. Kalimat ini terlontar ketika beberapa hari yang lalu, sekolah kami menyelenggarakan Olimpiade Matematika Tingkat SMP se-Jawa Timur yang diikuti oleh lebih dari 700 regu dan kegiatan pendamping berupa seminar bertemakan Strategi Membina Tim Olimpiade yang diikuti lebih dari 300 guru. Fenomena kegiatan seminar-seminar  untuk guru yang pesertanya membludak sedang marak sebab mereka mengejar perolehan sertifikat demi persiapan sertifikasi guru.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen bertujuan untuk memperbaiki pendidikan nasional, baik secara kualitas maupun kuantitas. Undang-undang ini menetapkan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru. Sesuai dengan amanat undang-undang tersebut, Sertifikasi Guru memang harus dilakukan sebagai proses pemberian bukti formal yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga profesional. Ketika seorang guru sudah mendapat sertifikat pendidik ini maka ada jaminan untuk mendapatkan imbalan yang layak, sehingga pekerjaan guru dapat dianggap sebagai pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif.

Sertifikasi Guru adalah sebuah program yang cukup menggemparkan dunia pendidikan. Berbagai kalangan menaruh harapan besar akan adanya perubahan kualitas pendidikan nasional namun tidak sedikit yang merasakan kegelisahan, terutama mengenai teknis pelaksanaan yang memungkinlah celah kecurangan sehingga tidak mewadahi tujuan yang sebenarnya.

Pada kenyataannya, proses sertifikasi guru dipandang berbeda oleh kalangan guru sendiri. Pernyataan yang sering didengungkan dalam obrolan sehari-hari, bahkan juga diskusi, seminar, workshop guru menunjukkan sudut pandang yang terlalu sederhana. Berikut ini gambaran pendapat yang sering beredar : “Dalam sertifikasi, guru-guru diminta mengajukan sebuah portofolio. Kemudian, portofolio yang berisi berbagai macam dokumentasi kerja seorang guru itu akan dinilai oleh Tim Assesor yang ditunjuk, kalau poin yang didapat dalam portofolio tersebut mencapai batas minimal, maka akan dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat guru. Jika tidak, kabarnya akan diberikan pelatihan dan boleh mengajukan sertifikasi pada periode berikutnya. Sertifikat guru yang telah dipegang dapat digunakan untuk mendapatkan imbalan kesejahteraan berupa 1 kali gaji. Harapannya dengan dukungan material atau finansial ini, guru-guru dapat bekerja lebih baik”.

Penulis sempat tercenung beberapa saat ketika kali pertama mendengar kalimat semacam itu dalam sebuah seminar guru. Terdapat sebuah keresahan dan kekhawatiran akan timbulnya hal yang tidak tepat dalam perjalanan sertifikasi guru. Penulis memandang ada beberapa hal yang perlu kita renungkan dari gambaran proses sertifikasi tersebut.

Pertama, proses sertifikasi belum menjadi jaminan peningkatan kualitas guru karena pada hakikatnya sertifikasi hanyalah alat untuk memetakan guru. Proses sertifikasi menghasilkan dua kategori yaitu guru yang lulus sertifikasi dan tidak lulus. Guru yang lulus sertifikasi dinilai memiliki kualifikasi sebagai pendidik, layak mendapat sertifikat, dan dianggap bisa menjalankan pekerjaan guru secara profesional. Guru yang tidak lulus dinilai belum memiliki kualifikasi sebagai pendidik, belum bisa mendapatkan sertifikat, dan dianggap belum bisa menjalankan pekerjaannya secara profesional sehingga perlu pembinaan lebih lanjut dalam bentuk pendidikan dan pelatihan. Dengan asumsi bahwa penilaian yang dilakukan para assesor dengan menggunakan metode portofolio adalah sebuah proses yang terpercaya dan akurat maka masih tersisa satu masalah lain. Kegiatan tindak lanjut berupa pendidikan dan pelatihan menjadi peluang untuk membantu peningkatan kualitas kompetensi pendidik, bahkan proses inilah yang perlu dikawal. Maka, apakah desain pendidikan dan pelatihan ini sudah disiapkan dengan baik?

Kedua, metode yang dipilih untuk meningkatkan kualitas guru melalui Sertifikasi Guru adalah memberikan jaminan kesejahteraan berupa imbalan 1 kali gaji.  Pilihan ini didasari harapan bahwa  dengan dukungan material atau finansial, maka guru-guru dapat bekerja lebih baik dan pekerjaan guru dapat dianggap sebagai pekerjaan yang profesional, menarik, dan kompetitif. Dalam kajian motivasi, cara ini adalah sebuah pilihan untuk meningkatkan motivasi sumber sumber daya manusia dari sisi ekstrinsik. Pemberian reward dari pihak luar diri memang dapat memunculkan motivasi dan menggerakkan seseorang untuk meraihnya, tetapi motivasi ekstrinsik sulit untuk bertahan dalam jangka waktu lama. Adakah jaminan setelah penambahan penghasilan akan serta merta membuat guru merasa puas sehingga lebih fokus dalam meningkatkan kualitas diri?

Berikut ini pertanyaan dan pernyataan menggelitik dari kalangan guru sendiri terkait dengan sertifikasi guru. ”Ayo ikut seminar, nanti dapat sertifikat lho!”, begitulah kira-kira komentar sekelompok guru yang sedang mempersiapkan diri untuk proses sertifikasi. ”Saya mau membuat penelitian, kan poinnya besar dalam penilaian sertifikasi” kata guru lainnya. ”Bolehkah minta surat keterangan untuk kegiatan-kegiatan mendampingi siswa karena itu juga ada poinnya lho” sahut yang lain.

Sejak ada proses sertifikasi guru, kegiatan seminar yang paling membosankan pun diikuti oleh banyak orang jika ada sertifikatnya. Guru-guru berburu sertifkat dengan mengikuti berbagai kegiatan baik yang bernama seminar, pelatihan, workshop, dan lain-lain. Bahkan banyak juga yang rela membayar mahal untuk kegiatan-kegiatan itu. “Saya bayar saja ya, tapi tidak bisa datang, nanti sertifikatnya dikirim saja ke sekolah”. Sikap-sikap ini sangat memalukan nama baik profesi guru karena hanya demi mendapatkan poin yang cukup dalam sertifikasi mereka menempuh cara-cara yang tidak etis. Di sisi lain, betapa banyak energi yang dikeluarkan untuk mengejar persiapan sertifikasi sehingga bisa saja kegiatan utama di sekolah terbengkalai dan kemudian kegiatan mengajar menjadi sebuah proses untuk menggugurkan kewajiban saja tanpa pemaknaan yang berarti.

Ketiga, seperti tampak dari cerita di atas, proses sertifikasi guru yang menggiurkan karena tawaran berupa tambahan 1 kali gaji itu membuat para guru bersemangat beraktivitas namun  bisa juga mengurangi keikhlasan dalam bekerja. Sikap seperti inikah yang akan diteladani oleh siswa kita? Bukankah para guru tidak hanya bertugas memberikan pengetahuan kepada siswa tapi juga berkewajiban memberikan penanaman nilai dan pendidikan karakter kepada siswa. Perilaku-perilaku guru yang kurang beretika dalam mengejar sertifikasi bukanlah sebuah contoh yang mendidik bagi anak-anak kita. Maka selanjutnya, fenomena sertifikasi guru hanya akan menambah daftar kesempatan merosotnya kualitas pendidik kita.

Life is always like two sides of coin. Dalam kehidupan ini selalu ada dua sisi antara kebaikan dan kebalikannya. Program peningkatan kualitas pendidikan dengan penetapan kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi sebagai suatu kesatuan upaya pemberdayaan guru ternyata juga bisa melahirkan efek samping masalah-masalah yang mungkin menimbulkan kemorosotan kualitas pendidikan kita. Ketika kita memiliki kesadaran akan masalah ini, kita masih bisa melakukan antisipasi. Kita sebagai insan dalam dunia pendidikan memegang amanah untuk mempersiapkan generasi penerus bangsa yang akan menjadi pemimpin di masa depan. Marilah kita menata diri, meluruskan niat, dan membangun keikhlasan hati dalam mengikuti sertikasi guru. Semoga segala usaha untuk persiapan sertifikasi guru lebih karena motivasi untuk memberdayakan diri dapat mendatangkan manfaat untuk bangsa ini.

ATARAXIS

November 26th, 2007 by anichristina

Kosakata ini aku temukan di harian Kompas, pada sebuah artikel tentang tokoh ahli kesehatan jiwa (lupa namanya?!). Ataraxis diambil dari bahasa Yunani yang berarti “ketentraman jiwa”. Kata ini dijadikan nama sebuah jurnal tentang ilmu kesehatan jiwa yang diprakarsai oleh tokoh tersebut. Aku selalu tertarik dengan kosakata-kosakata baru…Sepanjang usiaku yang 25 tahun ini, baru kali ini aku tahu ada kata “ATARAXIS”…dan mungkin masih banyak kata yang aku tidak tahu, dan oleh karena itu aku akan terus mencari untuk belajar…karena aku adalah manusia pembelajar…

Menilik pada makna kata ataraxis, akhirnya ingatanku kembali pada masa-masa kuliah ketika kali pertama aku berkenalan dengan filsafat. Terimakasih tak terhingga kepada Bapak Listiyono Santoso, dosen filsafatku, orang Fakultas Sastra yang mengajar di Psikologi (yang semua orang bilang, beliau orang yang mbulet, tidak jelas, pelit nilainya tapi aku jadi merasa paling nyambung ngomong sama beliau, dan dengan baiknya memberi nilai A untuk semua kuliah filsafat yang total berjumlah 6 SKS, setelah aku berusaha dengan keras menunjukkan bahwa aku memang layak mendapatkan A karena aku belajar dengan sungguh-sungguh).

Ketika belajar tentang filsafat, maka pertanyaan yang sering menjadi awal mula kajian adalah siapa aku dan mau kemana? Pertanyaan tentang siapa aku adalah sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, panjang ceritanya kalau diteruskan. Manusia adalah Homo Viator, sosok yang selalu berusaha mencari jati dirinya. Pertanyaan kedua mungkin lebih mudah dikaji karena terkait sesuatu yang bisa kita rencanakan, usahakan, dan akan kita raih.

Kita mau kemana? Ataraxis bisa menjadi salah satu jawaban untuk pertanyaan ini. Ketentraman jiwa adalah sesuatu yang didambakan sebagian besar orang (kalau tidak boleh bilang semuanya). Semua orang ingin mendapatkannya. Teringat juga, beberapa waktu yang lalu aku memutarkan sebuah film untuk siswa-siswaku : Pursuit of Happiness (Mengejar Kebahagiaan). Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan akan berusaha mengejar untuk meraihya. Masalahnya, ketentraman jiwa ataupun kebahagiaan bagi satu orang bisa jadi berbeda dengan orang yang lain. Ada yang berbahagia jika kebutuhannya terpenuhi, ada yang bahagian dengan materi, ada yang bahagia jika dicintai atau mencintai, dan seterusnya.

Lalu jika aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang menjadi sebuah ketentraman jiwa bagiku? Apa yang membuat aku bahagia? Meminjam teori Sosiologi tentang Rules and Roles (Aturan dan Peran), maka ada beberapa sudut pandang. Sebagai anak, aku akan berbahagia jika orangtuaku bahagia (jikalau nanti sebagai orangtua, aku akan bahagia jika anakku bahagia). Sebagai seorang guru tentunya aku berbahagia jika murid-muridku berbahagia. Sebagai anggota masyarakat, aku akan berbahagia jika masyarakat di sekitarku berbahagia.

Satu yang agak sulit didefinisikan adalah sebagai individu, aku akan berbahagia jika apa? Untuk pertanyaan yang satu ini, aku teringat sebuah catatan kecil yang pernah aku buat 2 tahun yang lalu. Judulnya Future Map in Five Years. Disitu kutuliskan hal-hal yang ingin kulakukan pada 5 tahun ke depan. Dari tulisan itu, aku mulai merangkai kesimpulan, inilah mungkin beberapa hal yang akan akan mengantarku pada sebuah ketentraman jiwa atau bisa membuatku bahagia, dan ke situlah aku akan menuju.

For parents, I plan to be economically independent, go home more often, bring them travelling, and renovate our house. For career, I plan to be a proffesional school caunselor, make a book, take master degree, build psychological agency, or be lecturer. For citizen, I plan to join NGO for social work, be a consultant for NGO, build kinderganten or school. For personal, I just write : I plan to marry, build my family, and take care of my children. For the last part of these plan, I believe that I will reach happiness through marriage. Like what Allah promises to us in the Holy Quran : Allah create couple for human so they can feel happy (Ar-Rum : 21). So, let me prepare everything that is needed to go there, soon…

Dari Keterdesakan Menjadi Kemandirian

November 5th, 2007 by anichristina

Berawal dari sebuah keterdesakan akhirnya menjadi sebuah wadah penggemblengan kemandirian. Keterdesakan itu terjadi kurang lebih 3 bulan yang lalu, ketika aku memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas malam 3 kali seminggu di Masjid Al Akbar Surabaya. Setiap kali pulang menjelang jam 10 malam, hamper selalu dihantui rasa was-was. Pilihan untuk menyewa bejak menuju kosku yang tidak lebih dari 4 kilimeter tetep menyisakan rasa khawatir semenjak tukang becak yang aku minta dating menjemput pada waktu yang telah disepakati tidak datang. Perasaan merugi berikutnya datang ketika aku menghitung pengeluaran yang membengkak hanya untuk memenuhi biaya transportasi itu. Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk menggunkan sepeda motor, kebetulan ada satu motor tidak dipakai di rumah Malang sebab Bapakku kerja di luar kota.

Permasalahan naik motor buatku bukan sesuatu yang sederhana. Aku punya trauma berat soal naik motor karena dulu pas SMA, pernah mengalami kecelakaan beberapa kali sewaktu belajar dan akhirnya diputuskan oleh ortuku : aku nggak boleh naik motor. Memang sesekali semasa kuliah aku memberanikan diri naik motor, tapi jantung berdebar, rasa gemetar, dan keringat dingin itu selalu menyertai ketika aku mulai mengendarai motor. Beberapa orang, termasuk konsultan pendidikan yang ada di tempat kerjaku pernah mengatakan : Konselor kita ini belum tuntas tugas perkembangan kemandiriannya sampai dia bisa naik motor…Dan ke-tidak-bisa-an-ku naik motor ini selalu jadi olok-olok karena sebenarnya tugas konselor lah untuk menuntaskan tugas perkembangan anak didiknya.

Akhirnya…berawal dari keterdesakan sering pulang malam itu, aku jadi cukup berani untuk keluar dari zona aman trauma naik motor. Syukur pada Allah bahwa motivasiku untuk belajar ilmu-Nya menjadi kekuatan untuk mengalahkan ketakutan dalam diriku. Akhirnya selama dua bulan ikut kajian tersebut aku melakukan perjalanan dengan naik motor.

Pengalaman berkendara motor ternyata menjadi sesuatu yang luar biasa buatku (buat orang lain biasa kali ya…). Yang jelas aku belajar banyak hal, seperti yang konsultanku katakan, tentang kemandirian dan tanggung jawab. Mengendari motor artinya merawat dan memenuhi kebutuhan motor agar berjalan, mulai dari mengisi bensin, mengganti oli, melakukan servis, mencuci motor, dst…Ada sebuah area manajemen waktu baru yang harus aku kelola. Mengendarai motor di jalan juga mengajariku banyak tentang pengambilan keputusan mendadak di jalan, mulai dari kapan aku harus menambah atau mengurangi kecepatan, bagaiman aku bersikap ketika terjebak macet, bagaimana akalau aku membonceng orang lain, dst…Aku jadi sadar bahwa memang memberikan kepercayaan sebuah kendaraan memang bisa menjadi sebuah terapi alternatif untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab…wah masukan bagus untuk ibu konselor nie…

Hukum-hukum Allah

September 15th, 2007 by anichristina

"Apakah manusia bisa memprediksi sesuatu dengan detil dengan ilmu pengetahuannya? Misalnya, ketika kita melihat sebuah pohon, apakah kita bisa tahu kapan daun nomor 467 akan jatuh dari tangkainya?" Pertanyaan ini muncul dalam sebuah kajian yang aku ikuti beberapa waktu yang lalu. Sebuah kajian yang sangat indah tentang Ilmu dan Ibadah dalam Islam oleh Ustad Abdullah Shahab.

Pertanyaan itu jawabannya BISA! Jika kita bisa menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh sebuah batu untuk yang dijatuhkan dari atas pohon dengan ketinggian tertentu sampai di permukaan tanah, maka kita juga bisa menghitung kapan sehelai daun jatuh dari tangkainya. Untuk menghitung batu, mungkin hanya satu hukum yang kita gunakan : rumus gravitasi. Nah kalau daun jatuh? tentu saja lebih kompleks…ya hukum gravitasi, konsep tentang penuaan daun, kemungkinan kecepatan angin di sekitar pohon, kemungkinan daun itu dipetik oleh tangan manusia, dst…Sekian banyak kemungkinan itu bisa dihitung…

Yang namanya gravitasi adalah hukum Allah, penuaan daun adalah hukum Allah juga, angin yang berhembus adalah hukum Allah juga, yang jelas ketika ada daun yang jatuh, maka itu dalam rangka memenuhi hukum Allah. Tak ada sehelai daun pun yang jatuh kecuali itu untuk memenuhi hukum Allah…Tak ada angin yang berhembus melainkan untuk memenuhi hukum Allah.

Apakah manusia bisa memahami hukum Allah? BISA dan Allah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi manusia untuk menyibak misteri hukum-hukum Allah, meskipun yang akhirnya diketahui manusia hanyalah sedikit saja.

Hukum Allah ini tentu saja tidak hanya berlaku untuk sesuatu yang bersifat fisik, tetapi hal-hal terkait dalam dunia sosial. Seorang anak manusia yang mempertahankan diri untuk hidup adalah hukum Allah. Sebuah perasaan terjadi dengan rumus : witing tresno jalaran saka kulino adalah hukum Allah juga..Sekali lagi itu semua adalah hukum Allah…Maha Besar Allah…