Saya telah menulis sebuah buku yang berisi pengalaman bekerja sebagai konselor sekolah. Saya berencana untuk mengembangkan dan menyempurnakan buku ini. Berikut ini salah satu bagian yang ada dalam buku tersebut. Ada yang memberi komentar?
Pendidikan adalah suatu proses untuk memahami adanya daya rohaniah yang lebih besar dari segala peristiwa yang dialami oleh manusia dalam kehidupannya. Daya rohaniah yang lebih besar ini dapat kita selami dengan nilai bernama spiritualitas.Nilai spiritual merupakan kunci api dalam jiwa manusia. Spiritualitas memberikan dan memelihara kepekaan akan makna dan tujuan kehidupan lainnya. Dimensi spiritual merupakan pusat manusia, komitmen manusia pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Penghayatan nilai ini akan menjadi sumber yang mengilhami dan mengangkat semangat manusia dan mengikat pada kebenaran tanpa batas waktu mengenai semua kemanusiaan. Kegiatan penghayatan spiritual dapat digali melalui pembenaman diri dalam literatur besar (kitab-kitab suci dan literatur kebijkasanaan) atau musik agung, berkomunikasi dengan alam, meditasi, kegiatan formal keagamaan, pelayanan demi sesama, dan menuliskan misi pribadi. Kegiatan penghayatan spiritual merupakan dasar untuk menentukan seseuatu yang merupakan hal-hal utama manusia. Jadi spiritualitas merupakan dimensi yang memimpin dimensi-dimensi kehidupan lainnya.
Pengahayatan spiritual yang paling mudah dan nyata adalah dengan terlibat secara mendalam dalm aktivitas keagamaan. Saya sangat bersyukur dapat bekerja di sebuah sekolah yang memegang nilai-nilai agama sebagai landasan yang kuat dalam proses pendidikan. Saya sungguh belajar banyak hal dari nilai-nilai yang diterapkan di sini. Semua guru yang ada di sekolah ini diberikan pembinaan agar memahami nilai-nilai kegamaan, memiliki kekuatan spiritual yang mendalam, melakukan komunikasi yang baik, dan dapat menjadi teladan bagi anak-anak. Kami diberikan pembekalan wawasan pengetahuan agama secara berkala dan diminta untuk memperluas wacana dengan membaca buku dan diskusi. Kami memilki jaringan kelompok-kelompok kecil untuk saling mengingatkan kuantitas dan kualitas ritual ibadah harian. Secara pribadi, saya merasakan nuansa spiritual inilah yang memelihara semangat dalam bekerja dan menuntun penghatayan bekerja sebagai ibadah untuk mencari keridhaan Allah.
Sekolah ini juga menerapkan pendidikan spiritual yang sama bagi para siswanya. Berdasar pada pandangan bahwa setiap manusia memiliki fitrah keagamaan, yaitu sebuah kecenderungan untuk menerima adanya kekuatan di luar diri kita yang telah menciptakan semesta dan menjadi pengendali dari seluruh alam ini, maka sekolah mengarahkan siswanya untuk menghayati nilai ketuhanan. Pendidikan untuk menanamkan spititulitas ini ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari memberikan wawasan, melakukan praktek ibadah, sistem penanaman nilai yang diselipkan dalam perkataan atau perbuatan guru, sampai pada pembentukan kebiasaan harian.
Sistem sekolah yang baik dapat memudahkan guru-guru untuk mendidik anak menghayati nilai spiritualitas. Dalam keseharian, senyum, salam, sapa dan sikap yang santun telah menjadi ciri khas para penghuni sekolah. Kebersihan sebagai bentuk kepedulian lingkungan terjaga dengan baik. Ritual ibadah dilakukan dengan kedisiplinan yang tinggi. Secara umum, budaya yang bersifat Islami telah menjadi keseharian yang nampak bagi siapa saja. Bahkan saya mengamati ada beberapa siswa, meskipun usianya sangat muda, memiliki akhlak yang luar biasa mulia dan kualitas ibadah yang mengagumkan dimana guru pun layak belajar pada mereka. Namun ada juga beberapa siswa, meskipun jumlahnya tidak banyak, cukup membuat pusing para guru karena sangat sulit diarahkan pada kebaikan.
Saya pernah mengalami suatu kondisi tertekan dalam sebuah sesi konseling dengan salah seorang siswa saya. Perasaan tertekan ini muncul ketika kami berdiskusi tentang agama. Saya mempertanyakan sikapnya yang kurang mempedulikan para guru yang mengingatkan dia berdisiplin ibadah. Saya tersentak oleh ungkapannya yang sangat panjang. “Saya ini sudah besar, saya sudah baliqh. Segala dosa dan pahala ada di pundak saya. Saya akan menanggung sendiri segala akibat dari perbuatan saya. Semua manusia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri di akhirat nanti. Lagipula semua manusia tidak ada yang sempurna, kecuali Nabi Muhammad yang memang dijamin langsung masuk surga. Semua manusia yang tidak sempurna, punya dosa dan kesalahan toh pada akhirnya harus mampir dulu ke neraka untuk mencuci dosa-dosanya. Guru tidak perlu repot-repot mengingatkan siswa untuk beribadah, saya juga tidak akan mengajak guru untuk bersama-sama ke neraka. Semua manusia akan berjalan sendiri nantinya. Jangan membuat saya semakin tertekan dengan banyak mengingatkan. Saya tahu, guru-guru yang mengingatkan saya akan semakin bertambah pahalanya dan berkurang dosanya. Dan ketika saya mengabaikan untuk diingatkan, maka semakin banyaklah dosa saya. Maka dari itu, sudah cukup, jangan mengingatkan saya lagi. Apa yang saya lakukan adalah urusan saya dengan Allah. Orang pasti menyangka bahwa saya berkata seperti ini karena saya telah kerasukan setan. Ya mungkin memang benar terlalu banyak setan bersemayam dalam diri saya. Saya juga sering tersiksa dengan pikiran-pikiran saya sendiri, tetapi untuk berubah rasanya sangat sulit. Jadi, biarkan saja saya.”
Saya mencoba menenangkan diri selama dia meluapkan pikirannya sambil berpikir bagaimana membuka pintu hatinya untuk menerima pencerahan. Saya sebenarnya sangat tersinggung dengan ucapannya dan ingin marah karena merasa dia melecehkan agama dan segala aktivitas sebagai guru yang selama ini saya lakukan tapi saya mencoba untuk menahan diri. Kemudian saya sampaikan sikap empati padanya. Saya ucapkan bahwa saya salut atas kejujurannya dalam mengungkapkan pikiran. Saya sampaikan juga bahwa manusia memang keimanannya bisa naik turun, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan, yang penting manusia itu mau berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Saya tegaskan bahwa mendidik anak bagi semua guru di sekolah ini adalah suatu amanah, kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah. Jangan berpikir bahwa guru-guru akan berhenti mengingatkan atau mengurangi kedisiplinan karena mengetahui pemikirannya yang seperti itu. Guru-guru di sekolah ini pastilah memang telah dipilih oleh Allah untuk memiliki kesabaran dalam mendidik dan kuat bertahan dengan siswa macam apapun. Saya sangat lega ketika saya berbicara dia diam dan mendengarkan, tidak memberikan sedikitpun bantahan.
Saya terdiam cukup lama setelah selesai konseling ini. Saya tidak menyangka ada sebuah hati dari seorang anak yang berusia muda dengan sudut pandang yang begitu sempit. Kalimat yang dia utarakan memang logis secara akal, tapi sungguh mencerminkan kemiskinan spiritualitas. Dia menilai agama hanya karena dosa dan pahala, surga dan neraka. Padahal agama mengajarkan nili-nilai kebajikan yang amat luas yang sungguh akan mendamaikan kehidupan manusia. Saya menarik kesimpulan bahwa memang dia belum mendapat hidayah untuk menghayati nilai spiritualitas yang sejati, mungkin dia butuh pembelajaran dan proses yang lebih tepat untuk merubah dirinya. Peristiwa ini menjadi sebuah pengalaman berharga, saya menyadari bahwa tidak mudah untuk memberikan pendidikan nilai spiritual pada remaja.
Berikut ini sebuah kisah lain yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani peran sebagai guru. Dalam sebuah rapat koordinasi wali kelas yang diselenggarakan secara mingguan, kami membicarakan kasus-kasus anak yang bermasalah dengan orangtuanya. Kondisi keluarga yang kurang harmonis dengan berbagai macam sebab seringkali membuat perkembangan jiwa anak-anak menjadi tidak sehat. Berbagai macam kasus mengenai masalah pengendalian emosi, perkembangan kepribadian, ataupun interaksi sosial yang kurang baik ternyata berakar pada lingkungan keluarga yang kurang harmonis Begitu besar pengaruh sebuah lingkungan terhadap pembentukan perilaku anak-anak.
Kepala sekolah menutup rapat tersebut dengan membaca ayat-ayat Al-Quran yang berisi tentang tata cara hubungan orangtua dan anak. Dalam firman Tuhan itu disebutkan bahwa orangtua berkewajiban mendidik anak-anaknya dan anak-anak berkewajiban berperilaku baik kepada kedua orangtua yang memeliharanya. Kewajiban berbuat baik terhadap orangtua ini tetap berlaku meskipun orangtua menyekutukan Tuhan, sebuah dosa besar yang tidak terampuni. Kepala sekolah menggaris bawahi bahwa seburuk apapun orangtua, anak-anaknya tetap berkewajiban untuk berbuat baik pada mereka. Maka kami diminta untuk menyampakan ini pada siswa yang memiliki masalah dengan orangtua, bahwa anak-anak berkewajiban untuk tetap berbuat baik pada orangtua paling tidak dengan mendoakan mereka meskipun sebagai orangtua mereka melakukan banyak kesalahan yang ditunjukkan dengan ketidakharmonisan hubungan mereka. Kepala sekolah juga kembali mengingatkan, untuk kesekian kalinya, bahwa kami para guru harus memiliki keajegan dalam mendoakan anak-anak dalam setiap ibadah kami. Bagaimana perkembangan setiap anak adalah kekuasan Pencipta-nya untuk menjadinya baik atau buruk. Sebagai manusia kita berusaha dengan memberikan pendidikan sebaik-baiknya, disertai dengan doa yang tulus, dan menyerahkan segalanya pada Allah.
Saya belajar bahwa mendorong anak untuk menghayati nilai spiritulitas adalah sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan landangan perilaku beragama secara ajeg.
Saya belajar bahwa untuk menutup segala usaha kita agara mendapatkan anak-anak yang baik adalah doa. Segala perubahan yang terjadi, menjadi lebih baik atau lebih buruk pastilah di bawah kehendak Allah. Jika kita berharap anak-anak berubah menjadi lebih baik, itu pun juga hanya bisa terjadi atas kehendak Allah.