Archive for September, 2006

DO YOU KNOW

Friday, September 29th, 2006

by Mariah Carey

Do you know where you’re going to?

Do you like the things that life is showing you?

Where are you going to?

Do you know?

Do you get what you’re hoping for?

When you look behind you there’s no open door

What are you hoping for?

Do you know?

Once we were standing still in time

Chasing the fantasies that filled our minds

You knew how I loved you, but my spirit was free

Laughing at the questions that you once asked of me

Now looking back at all we’ve had

We let so many dreams just slip through our hands

Why must we wait so long before we see

How sad the answers to those questions can be?

Do you know where you’re going to?

Do you like the things that life is showing you?

Where are you going to?

Do you know?

Do you get what you’re hoping for?

When you look behind you there’s no open door

What are you hoping for?

Do you know?

"I think this song represents my feeling to someone, right now : DO YOU KNOW?"

Pendidikan Nilai :Spiritualitas

Thursday, September 28th, 2006

Saya telah menulis sebuah buku yang berisi pengalaman bekerja sebagai konselor sekolah. Saya berencana untuk mengembangkan dan menyempurnakan buku ini. Berikut ini salah satu bagian yang ada dalam buku tersebut. Ada yang memberi komentar?

Pendidikan adalah suatu proses untuk memahami adanya daya rohaniah yang lebih besar dari segala peristiwa yang dialami oleh manusia dalam kehidupannya. Daya rohaniah yang lebih besar ini dapat kita selami dengan nilai bernama spiritualitas.Nilai spiritual merupakan kunci api dalam jiwa manusia. Spiritualitas memberikan dan memelihara kepekaan akan makna dan tujuan kehidupan lainnya. Dimensi spiritual merupakan pusat manusia, komitmen manusia pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Penghayatan nilai ini akan menjadi sumber yang mengilhami dan mengangkat semangat manusia dan mengikat pada kebenaran tanpa batas waktu mengenai semua kemanusiaan. Kegiatan penghayatan spiritual dapat digali melalui pembenaman diri dalam literatur besar (kitab-kitab suci dan literatur kebijkasanaan) atau musik agung, berkomunikasi dengan alam, meditasi, kegiatan formal keagamaan, pelayanan demi sesama, dan menuliskan misi pribadi. Kegiatan penghayatan spiritual merupakan dasar untuk menentukan seseuatu yang merupakan hal-hal utama manusia. Jadi spiritualitas merupakan dimensi yang memimpin dimensi-dimensi kehidupan lainnya.

Pengahayatan spiritual yang paling mudah dan nyata adalah dengan terlibat secara mendalam dalm aktivitas keagamaan. Saya sangat bersyukur dapat bekerja di sebuah sekolah yang memegang nilai-nilai agama sebagai landasan yang kuat dalam proses pendidikan. Saya sungguh belajar banyak hal dari nilai-nilai yang diterapkan di sini. Semua guru yang ada di sekolah ini diberikan pembinaan agar memahami nilai-nilai kegamaan, memiliki kekuatan spiritual yang mendalam, melakukan komunikasi yang baik, dan dapat menjadi teladan bagi anak-anak.  Kami diberikan pembekalan wawasan pengetahuan agama secara berkala dan diminta untuk memperluas wacana dengan membaca buku dan diskusi. Kami memilki jaringan kelompok-kelompok kecil untuk saling mengingatkan kuantitas dan kualitas ritual ibadah harian. Secara pribadi, saya merasakan nuansa spiritual inilah yang memelihara semangat dalam bekerja dan menuntun penghatayan bekerja sebagai ibadah untuk mencari keridhaan Allah.

Sekolah ini juga menerapkan pendidikan spiritual yang sama bagi para siswanya. Berdasar pada pandangan bahwa setiap manusia memiliki fitrah keagamaan, yaitu sebuah kecenderungan untuk menerima adanya kekuatan di luar diri kita yang telah menciptakan semesta dan menjadi pengendali dari seluruh alam ini, maka sekolah mengarahkan siswanya untuk menghayati nilai ketuhanan. Pendidikan untuk menanamkan spititulitas ini ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari memberikan wawasan, melakukan praktek ibadah, sistem penanaman nilai yang diselipkan dalam perkataan atau perbuatan guru, sampai pada pembentukan kebiasaan harian.

Sistem sekolah yang baik dapat memudahkan guru-guru untuk mendidik anak menghayati nilai spiritualitas. Dalam keseharian, senyum, salam, sapa dan sikap yang santun telah menjadi ciri khas para penghuni sekolah. Kebersihan sebagai bentuk kepedulian lingkungan terjaga dengan baik. Ritual ibadah dilakukan dengan kedisiplinan yang tinggi. Secara umum, budaya yang bersifat Islami telah menjadi keseharian yang nampak bagi siapa saja. Bahkan saya mengamati ada beberapa siswa, meskipun usianya sangat muda, memiliki akhlak yang luar biasa mulia dan kualitas ibadah yang mengagumkan dimana guru pun layak belajar pada mereka. Namun ada juga beberapa siswa, meskipun jumlahnya tidak banyak, cukup membuat pusing para guru karena sangat sulit diarahkan pada kebaikan.

            Saya pernah mengalami suatu kondisi tertekan dalam sebuah sesi konseling dengan salah seorang siswa saya. Perasaan tertekan ini muncul ketika kami berdiskusi tentang agama. Saya mempertanyakan sikapnya yang kurang mempedulikan para guru yang mengingatkan dia berdisiplin ibadah. Saya tersentak oleh ungkapannya yang sangat panjang. “Saya ini sudah besar, saya sudah baliqh. Segala dosa dan pahala ada di pundak saya. Saya akan menanggung sendiri segala akibat dari perbuatan saya. Semua manusia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri-sendiri di akhirat nanti. Lagipula semua manusia tidak ada yang sempurna, kecuali Nabi Muhammad yang memang dijamin langsung masuk surga. Semua manusia yang tidak sempurna, punya dosa dan kesalahan toh pada akhirnya harus mampir dulu ke neraka untuk mencuci dosa-dosanya. Guru tidak perlu repot-repot mengingatkan siswa untuk beribadah, saya juga tidak akan mengajak guru untuk bersama-sama ke neraka. Semua manusia akan berjalan sendiri nantinya. Jangan membuat saya semakin tertekan dengan banyak mengingatkan. Saya tahu, guru-guru yang mengingatkan saya akan semakin bertambah pahalanya dan berkurang dosanya. Dan ketika saya mengabaikan untuk diingatkan, maka semakin banyaklah dosa saya. Maka dari itu, sudah cukup, jangan mengingatkan saya lagi. Apa yang saya lakukan adalah urusan saya dengan Allah. Orang pasti menyangka bahwa saya berkata seperti ini karena saya telah kerasukan setan. Ya mungkin memang benar terlalu banyak setan bersemayam dalam diri saya. Saya juga sering tersiksa dengan pikiran-pikiran saya sendiri, tetapi untuk berubah rasanya sangat sulit. Jadi, biarkan saja saya.”

            Saya mencoba menenangkan diri selama dia meluapkan pikirannya sambil berpikir bagaimana membuka pintu hatinya untuk menerima pencerahan. Saya sebenarnya sangat tersinggung dengan ucapannya dan ingin marah karena merasa dia melecehkan agama dan segala aktivitas sebagai guru yang selama ini saya lakukan tapi saya mencoba untuk menahan diri. Kemudian saya sampaikan sikap empati padanya. Saya ucapkan bahwa saya salut atas kejujurannya dalam mengungkapkan pikiran. Saya sampaikan juga bahwa manusia memang keimanannya bisa naik turun, bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan, yang penting manusia itu mau berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Saya tegaskan bahwa mendidik anak bagi semua guru di sekolah ini adalah suatu amanah, kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah. Jangan berpikir bahwa guru-guru akan berhenti mengingatkan atau mengurangi kedisiplinan karena mengetahui pemikirannya yang seperti itu. Guru-guru di sekolah ini pastilah memang telah dipilih oleh Allah untuk memiliki kesabaran dalam mendidik dan kuat bertahan dengan siswa macam apapun. Saya sangat lega ketika saya berbicara dia diam dan mendengarkan, tidak memberikan sedikitpun bantahan.

Saya terdiam cukup lama setelah selesai konseling ini. Saya tidak menyangka ada sebuah hati dari seorang anak yang berusia muda dengan sudut pandang yang begitu sempit. Kalimat yang dia utarakan memang logis secara akal, tapi sungguh mencerminkan kemiskinan spiritualitas. Dia menilai agama hanya karena dosa dan pahala, surga dan neraka. Padahal agama mengajarkan nili-nilai kebajikan yang amat luas yang sungguh akan mendamaikan kehidupan manusia.  Saya menarik kesimpulan bahwa memang dia belum mendapat hidayah untuk menghayati nilai spiritualitas yang sejati, mungkin dia butuh pembelajaran dan proses yang lebih tepat untuk merubah dirinya.  Peristiwa ini menjadi sebuah pengalaman berharga, saya menyadari bahwa tidak mudah untuk memberikan pendidikan nilai spiritual pada remaja.

Berikut ini sebuah kisah lain yang sangat berkesan bagi saya dalam menjalani peran sebagai guru. Dalam sebuah rapat koordinasi wali kelas yang diselenggarakan secara mingguan, kami membicarakan kasus-kasus anak yang bermasalah dengan orangtuanya. Kondisi keluarga yang kurang harmonis dengan berbagai macam sebab seringkali membuat perkembangan jiwa anak-anak menjadi tidak sehat. Berbagai macam kasus mengenai masalah pengendalian emosi, perkembangan kepribadian, ataupun interaksi sosial yang kurang baik ternyata berakar pada lingkungan keluarga yang kurang harmonis Begitu besar pengaruh sebuah lingkungan terhadap pembentukan perilaku anak-anak.

Kepala sekolah menutup rapat tersebut dengan membaca ayat-ayat Al-Quran yang berisi tentang tata cara hubungan orangtua dan anak. Dalam firman Tuhan itu disebutkan bahwa orangtua berkewajiban mendidik anak-anaknya dan anak-anak berkewajiban berperilaku baik kepada kedua orangtua yang memeliharanya. Kewajiban berbuat baik terhadap orangtua ini tetap berlaku meskipun orangtua menyekutukan Tuhan, sebuah dosa besar yang tidak terampuni. Kepala sekolah menggaris bawahi bahwa seburuk apapun orangtua, anak-anaknya tetap berkewajiban untuk berbuat baik pada mereka. Maka kami diminta untuk menyampakan ini pada siswa yang memiliki masalah dengan orangtua, bahwa anak-anak berkewajiban untuk tetap berbuat baik pada orangtua paling tidak dengan mendoakan mereka meskipun sebagai orangtua mereka melakukan banyak kesalahan yang ditunjukkan dengan ketidakharmonisan hubungan mereka. Kepala sekolah juga kembali mengingatkan, untuk kesekian kalinya, bahwa kami para guru harus memiliki keajegan dalam mendoakan anak-anak dalam setiap ibadah kami. Bagaimana perkembangan setiap anak adalah kekuasan Pencipta-nya untuk menjadinya baik atau buruk. Sebagai manusia kita berusaha dengan memberikan pendidikan sebaik-baiknya, disertai dengan doa yang tulus, dan menyerahkan segalanya pada Allah.

Saya belajar bahwa mendorong anak untuk menghayati nilai spiritulitas adalah sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan landangan perilaku beragama secara ajeg.

Saya belajar bahwa untuk menutup segala usaha kita agara mendapatkan anak-anak yang baik adalah doa. Segala perubahan yang terjadi, menjadi lebih baik atau lebih buruk pastilah di bawah kehendak Allah. Jika kita berharap anak-anak berubah menjadi lebih baik, itu pun juga hanya bisa terjadi atas kehendak Allah.

The True Power of Water

Monday, September 25th, 2006

Judul ini persis dengan sebuah buku yang barusan saya baca, sebuah buku yang mengetuk kesadaran untuk semakin meyakini keagungan Sang Pencipta. Seperti yang tertulis pada komentar-komentar pada sampul buku ini, kata yang dapat mewakili adalah luar biasa! Buku ini bisa menjembatani antara sains dan spiritualitas dengan cara yang sederhana, yaitu memahami sifat dasar AIR. Buku ini menjadi insprirasi untuk memperluas cakrawala wawasan tentang pengobatan medis maupun psikologis dengan memamfaatkan gelombang energi AIR. Buku ini menunjukkan bahwa energi CINTA bisa menjadi sebuah kekuatan yang paling indah dan dahsyat dalam membentengi kita dari suasana jiwa yang negatif.

Buku ini menarik karena penulisnya, Masaru Emoto, memaparkan ide tentang : AIR yang memiliki sifat dinamis dalam menerima pesan/informasi dari lingkungan di sekitarnya dengan menampilkan bukti-bukti ilmiah dari penelitiannya. AIR yang dibekukan dan diamati dibawah mikroskop khusus ternyata menampilkan bentuk kristal yang berbeda-beda sesuai dengan asal atau latar belakang air tersebut. Air yang berasal dari daerah tercemar tidak dapat dapat membentuk kristal, air dari daerah bersih dapat membentuk kristal. Air yang diberi ucapan ‘terima kasih’ akan membentuk kristal yang indah, air yang diberi ucapan ‘kamu bodoh’ membentuk kristal yang jelek. Air yang diberi ucapan ‘kebahagiaan’ membentuk kristal yang indah, air yang diberi ucapan ‘penderitaan’ membentuk kristal yang kurang baik. Air yang diperdengarkan musik klasik membentuk kristal yang indah, air yang diperdengarkan musik heavy metal membentuk kristal yang jelek. Air yang ditunjukkan gambar yang menarik membentuk kristal yang indah, sedangkan yang ditunjukkan gambar menyeramkan tidak membentuk kristal. Air yang mendapat sentuhan gelombang elektromagnetik (televisi, telepon, komputer) membentuk kristal yang jelek, air yang diperdengarkan doa-doa membentuk kristal yang indah. Mengapa air berubah-ubah bentuk kristalnya sesuai dengan latar belakang? karena air sangat sensitif terhadap suatu bentuk energi yang disebut HADO. Semua benda yang ada di dunia ini memiliki energi HADO yang bisa berbentuk postif atau negatif.

Satu hal yang membuat saya tercengang adalah kenyataan bahwa baha 70% tubuh kita adalah AIR, oleh karena tubuh kita pastilah sangat sensitif dengan perubahan energi di sekitar kita. Segala pesan atau informasi di sekitar kita, apakah itu suara, perkataan, gambar, musik membuat AIR yang ada dalam tubuh kita meresponnya. Jika kita berada pada lingkungan dengan berbagai macam informasi postif maka tubuh kita akan memberi respon positif. Jika kita mendapat informasi atau suasana negatif dari lingkungan sekitar kita maka kita akan merasa negatif. Maka teori berpikir positif untuk mendapatkan kebaikan diri dapat dibuktikan secara ilmiah dengan penemuan ini.

Saya berpikir, jikalau ada seseorang datang pada Pak Kyai untuk disembuhkan (baik itu penyakit fisik atau psikologis) kemudian ia hanya mendapat segelas air yang telah dibacakan surat Al Fatihah, lalu ternyata orang ini sembuh, ini adalah suatu yang wajar, bukan mukjizat Pak Kyai, tapi KEKUATAN PENCIPTA ALAM SEMESTA yang telah membuat sistem dan mekanisme AIR…Inilah ayat-ayat Allah yang tersirat di alam…Allah Maha Besar…

Teknologi Saputra

Friday, September 22nd, 2006

Salam untuk semua pembaca…

Sebuah pengalaman berharga ingin kubagikan di sini. Dua hari yang lalu aku mengikuti sebuah kuliah umum yang diselenggarakan di sekolah, kuliah ini disampaikan oleh Umar Hasan Saputra. Pernahkan kalian mendengar nama beliau? Akhir-akhir ini media massa memberitakan kehebatannya dalam menemukan sebuah penemuan ilmiah berharga yaitu NUTRISI SAPUTRA yang diklaim sebagai nutrisi esensial yang diperlukan oleh seluruh makhluk di bumi ini. Terobosan pertama telah dibuktikan untuk dunia pertanian yang menunjukkan bahwa pemberian nutrisi esensial membuat kinerja sel-sel tanaman menjadi lebih ringan dan menghasilkan produktivitas yang memiliki kualitas tinggi. Dalam waktu dekat, nutrisi ini akan digunakan dalam dunia peternakan. Dalam kuliah ini, disampaikan pula bahwa ke depan nutrisi ini bisa digunakan dalam dunia kosmetika. Kehebatan penemuan ini adalah perubahan yang diberikan pada kualitas hidup manusia, akan memiliki vitalitas tubuh yang lebih baik (bisa lebih sehat dan berumur panjang), memiliki penampilan yang baik (tampan, anggun, dan awet muda), dan juga kualitas pikiran yang lebih baik.

Ini adalah sebuah penemuan yang luar biasa, nutrisi esensial. Tapi sesungguhnya, nutrisi saputra ini hanyalah sebagian kecil dari TEKNOLOGI SAPUTRA yang sedang beliau kembangkan. Masih banyak penemuan yang lebih hebat di bidang materi, energi, pendidikan, dan lain-lain. Yang paling mengagumkan adalah bahwa beliau sedang menyusun teori baru yang akan menyempurnakan teori Einstein. Jika Einstein telah menemukan bahwa materi yang memiliki kecepatan cahaya akan berubah menjadi energi (E = mc2), maka Saputra sedang membalik teorinya bahwa energi bisa menjadi materi dengan menemukan adanya BATAS antara materi dan energi yang disebut ZARAH. Tentunya beliau masih menahan penjelasan yang lebih detil. Dari sini saya semakin terkagum-kagum karena bisa mendengar dan melihat lagsung seorang ilmuwan Indonesia yang sedemikian cemerlang. Bahkan, SBY juga turut terpukau oleh karyanya, presiden telah mempercayakan banyak proyek pembangunan Indonesia kepada beliau.

Sebenarnya yang paling berkesan dalam kuliah itu bukan penemuan-penemuan beliau tetapi filosofi hidupnya yang secara tersurat beliau sampaikan dan secara tersirat dalam segala gerak-gerik yang tampak. Filosofi inilah yang beliau katakan telah mengilhami dalam menemukan berbagai macam teknologi yang luar biasa. Sepanjang kuliah itu, aku meneteskan air mata hampir tanpa henti karena cara berbicaranya yang sangat halus dan mendalam. Beliau menyampaikan segala sesuatu selalu didasari oleh ayat-ayat Allah. Maka setiap kali beliau sampaikan filosofi bersifat spiritual, airmataku mengalir semakin deras. Aku merasakan adanya emosi luar biasa, rasa haru dan takjub akan kekuasaan Sang Pencipta.

Filosofi hidup yang disampaikan itu diberi judul "Ilmu untuk kehidupan dan penghidupan". Segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk segala ilmu mestinya didasari oleh visi utama : MENYEMBAH DAN MENGAGUNGKAN ALLAH. Misi kita adalah untuk membawa kesejahteraan bagi seluruh penduduk bumi. Bahwa apa yang beliau temukan adalah bagian dari ilmu kehidupan yang dipersembahkan untuk menyembah dan mengagungkan Allah, serta beliau berusaha penemuan ini bermanfaat bagi seluruh penduduk bumi. Kesederhanaan beliau dalam menyampaikan maupun kesederhaan hidup yang nampak menambah kuat terpancarnya filosofi itu. Sekolah kami tidak mengeluarkan sepeser uang pun ketika mengundang beliau, semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung oleh biayanya sendiri. Beliau berkata bahwa datang kesini hanya ingin berbagi tentang filosofi hidup dengan warga Al-Hikmah. Kesederhanaan ini juga nampak dari sikapnya dalam melayani rekan-rekan pers yang datang mengerubuti, menjawab setiap kritikan dengan bijaksana. Dia bahkan tidak mempermasalahkan ketika penemuannya digunkan oleh banyak orang tanpa ijin, asal tidak disalahgunakan. Sesungguhnya aku merasa melihat ayat-ayat Allah (kebesaran, kekuasaan dan keagungan) dalam sosok dan penemuan mutakhir dari Saputra.