Why do I loss weight?
Saturday, October 28th, 2006Beberapa waktu yang lalu, Oprah Winfrey Show menampilkan episode LOSS WEIGHT. Oprah mengundang banyak orang, laki-laki dan perempuan, yang berhasil menurunkan berat badannya dan menguak cerita dibalik kesuksesan mereka. Secara umum motivasi mereka untuk menurunkan berat badan adalah untuk kesehatan dan meningkatkan kepercayaan diri, yang berbeda adalah caranya. Ada yang dilakukan dengan berolahraga, macam-cam mulai senam, fitness, lari, bermain dengan anak-anak, atau semacam yoga. Ada yang dengan mengatur pola makan saja. Ada yang mengatur pembakaran kalori dengan penjadwalan kegiatan seks karena memang menurut perhitungan medis berhubungan seks akan membakar kalori sangat banyak. Hal beginian dibahas dimuka umum, wuih…amerika banget. Acara ini memang bertema sederhana tapi dikemas sedemikian menarik. Oprah (atau orang-orang dibaliknya?) selalu pandai mendesain acara. Aku jadi punya sedikit wawasan mengenai LOSS WEIGHT yang ternyata berhubungan dengan diriku sendiri saat ini.
Pada lebaran kali ini, banyak kesempatan untuk bernostalgia. Aku sebetulnya sangat senang bertemu dengan orang-orang lama, bisa bertukar pikiran, berbagai pengalaman, dan saling memberi masukan. Kadang-kaddang orang-orang ini memberikan penilaian pada diri kita dengan membandingkan pertemuan sebelumnya. Misalnya, “Wah..dah setahun nggak ketemu tambah sukses ya sekarang. Setahun yang lalu kamu kan masih….sekarang jadi….dst”. Buat aku, ini adalah semacam evaluasi diri. Tapi ada juga yang agak membuat risih kalau ketemu karena omongannya basi-basi banget, salah satunya tentang penampilan. Dan yang paling membuat aku risih pada lebaran kali ini adalah komentar orang-orang yang seragam : KAMU KOK KURUS BANGET SIH SEKARANG. Sudah tak terhitung berapa banyak orang berkomentar seperti itu. Masa sih, nggak ada komentar lain selain berat badan, emang penting ya?
Aku baru tersadar untuk berpikir hal ini secara serius ketika kakekku yang berkomentar. Katanya aku kurus pasti karena pola hidupku yang berubah terutama soal jam biologis atau kebanyakan pikiran. Kemudian aku dinasehati agar jangan keterlaluan pada diri sendiri. Selama ini aku memang tidak begitu perhatian pada fluktuasi berat badanku. Tapi seingatku sekitar tiga bulan yang lalu beratku masih 45-46 kg, pas awal puasa mungkin sekitar 43-44 kg, sekarang mungkin turun 1-2 kg. Jadi kalo dihitung-hitung, lumayan juga turunnya, tapi kan nggak terlalu banyak.
Aku jadi ingat akan prinsipku soal berat badan. Pertama, tidak boleh gemuk, orang gemuk pastinya kebanyakan lemak-kolesterol, nanti gampang kena penyakit. Lagipula orang gemuk nggak enak dilihat, bikin aku nggak pede aja. Ada satu ungkapan lagi dari temanku dulu, namanya Nita Supriyati : Orang yang gemuk itu pastinya orang yang nggak bisa mengurus dirinya sendiri, orang yang nggak bisa mengendalikan diri, dan kurang bertanggung jawab. (Ini sih pendapat ekstrim, nggak sepenuhnya benar, tapi kadang-kadang ada benarnya kalau kita kasus beberapa orang). Kedua, tidak boleh terlalu kurus juga, orang kurus biasanya kurang gizi yang kemudian membuat daya tahan tubuh jadi lemah sehingga jadi mudah sakit. Aku juga tidak mau sakit-sakitan, membuatku jadi tidak produktif.
Kalau sekian banyak orang berkomentar aku terlalu kurus aku jadi berpikir, emang iya? Emang kenapa kok bisa begini ya? Suatu hari, aku mematut diriku di depan kaca dan baru kulihat dengan detil, wajahku yang menjadi agak tirus, tulang-tulang tangan dan leher yang menonjol. Hal ini semain terbukti ketika aku pergi ke penjahit langgananku untuk mengukur kebaya. Kecuali tinggi badan, semua ukuran berkurang 2-4 senti, seperti lingkar dada, pinggang, dst (aku nggak ngerti detilnya). Maka aku mencoba menganalisa diriku sendiri, ada apa dengan diriku sampai begini. Kukira ada banyak hal yang menjadi penyebabnya.
Sejak bulan Juli aku memang mengikuti jadwal senam aerobik disebuah klub senam dekat tempat tinggalku. Aku tidak pernah berniat untuk menurunkan berat badan, aku hanya ingin KEBUGARAN karena kupikir aku memang jarang berolahraga. Rekan-rekan kerjaku pada heran kenapa juga aku mesti senam, kata mereka aku sudah punya postur tubuh yang bagus (kecuali soal tinggi badan lho…haha). Mereka selalu geleng-geleng kepala ketika melihat aku tergesa-gesa meninggalkan temapat kerja tepat waktu, pada hari Senin dan Rabu sore, kadang setengah berlari untuk mengejar jadwalku agak tidak terlambat di tempat senam. Di tempat senam, ibu-ibu (yang memang postur tubuhnya rata-rata overweight) juga heran kenapa aku yang tidak bermasalah dengan berat badan masih ikut senam. Sejak aku aku rutin, dua kali kali seminggu melakukannya aku memang merasa jauh lebih fit, bahkan migrain yang biasa aku derita ketika kelelahan sudah tidak pernah datang lagi. Dan aku tetap bekerja seharian dengan penuh vitalitas. Sungguh, aku tidak merencanakan kegiatan ini untuk memberi dampak pada berat badan.
Ketika aku masih kecil sampai aku berusia 18 tahun aku adalah vegetarian murni, tidak mau makan yang namanya daging, ayam, telur dan semacamnya, bahkan bakso saja tidak. Di rumah, ibuku selalu menyediakan makanan sesuai yang aku mau. Tapi sejak kuliah, jadi anak kost aku tidak bisa pilih-pilih makanan. Maka aku mulai belajar makan makanan yang dulu aku tidak mau, sekarang aku sudah terbiasa dengan berbagai macam makanan meskipun ada saat-saat tertentu aku masih ‘kumat’ dan pilih-pilih makanan. Nah sejak ikut senam, aku mulai kembali ke’habitat’ku, nggak vegetarian full seperti dulu tapi food combining. Katanya ibu-ibu di tempat senam pola makan ini akan lebih sehat untuk sistem pencernaan kita. Aku juga tidak merencanakan kegiatan ini untuk menunkan berat badan tapi untuk kesehatan saja.
Aku memiliki kecenderungan workaholik. Mungkin sekian banyak energi yang digunakan untuk bekerja telah membakar lemak dalam tubuhku. Di satu sisi yang positif ini adalah kekuatan pribadi yang mengarah pada tanggung jawab dan komitmen untuk melakukan segala sesuatu sampai tuntas dan berusaha memberikan yang terbaik. Secara formal, aku dijadwal bekerja 8 jam sehari tapi aku selalu bekerja lebih. Aku menambah rata-rata 2 jam setiap hari karena kukira memang waktu 8 jam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan sekian banyak pekerjaan yang dibebankan. Dan itu dilakukan oleh banyak orang, bukan aku saja, lembur adalah suatu hal biasa di tempat kerjaku. Bahkan saat-saat tertentu aku bisa bekerja 12 jam sehari atau lebih. Di satu sisi yang negatif ini adalah kelemahan pengelolaan stres. Kadangkala ketika aku memiliki beban pikiran yang membuatku tertekan, aku melampiaskannya dengan bekerja. Aku merasa jika tidak melakukan sesuatu maka aku akan semakin kebingungan. Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bersitegang dengan kepala sekolah. Setelah peristiwa aku jatuh, keesokan harinya aku masih masuk karena banyak tanggung jawab yang mesti kulakukan hari itu, meski kepalaku masih pusing. Tiga kali aku didatangi dan disuruh pulang dari nada halus, memaksa, dan marah. Sampai orang-orang lain kena marah juga karena membiarkan aku beraktivitas (Suruh Ani pulang, memang nggak ada orang lain yang bisa ngganti!). Aku tetap saja beraktivitas seharian sehingga sampai malam hari kami masih berdebat melalui sms, dan dengan nada kesal beliau mengatakan bahwa tubuhku punya hak untuk istirahat.
Terakhir, aku harus mengakui bahwa selera makanku memang menurun beberapa bulan terakhir, mungkin juga beratku turun karena hal ini. Ibu kosku selalu ngomel-ngomel karena aku selalu ambil nasi sedikit (ngomel-ngomel yang maksudnya baik). Katanya kalo makan sedikit, tar aku sakit soalnya kerjanya kan sering pulang malam, butuh banyak energi. Beberapa orang punya kecenderungan melampiaskan kondisi stres mereka dengan banyak makan, memang ini adalah adalah satu benyuk katarsis sesaar yang efektif untuk menenangkan pikiran. Beberapa orang yang memiliki beban pikiran malah tidak memiliki nafsu makan. Nah, aku kayaknya lebih dekat dengan tipe yang terakhir. Apa-apa yang terjadi dalam pikiranku, yang sedang mengusik jiwaku jadi berpengaruh pada mekanisme tubuhku. Ini adalah suatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh, pikiran, dan jiwa adalah satu kesatuan (Makanya di Metro TV ada acara yang judulnya BODY, MIND, SOUL, aku suka banget liat acara ini).