Archive for October, 2006

Why do I loss weight?

Saturday, October 28th, 2006

Beberapa waktu yang lalu, Oprah Winfrey Show menampilkan episode LOSS WEIGHT. Oprah mengundang banyak orang, laki-laki dan perempuan, yang berhasil menurunkan berat badannya dan menguak cerita dibalik kesuksesan mereka. Secara umum motivasi mereka untuk menurunkan berat badan adalah untuk kesehatan dan meningkatkan kepercayaan diri, yang berbeda adalah caranya. Ada yang dilakukan dengan berolahraga, macam-cam mulai senam, fitness, lari, bermain dengan anak-anak, atau semacam yoga. Ada yang dengan mengatur pola makan saja. Ada yang mengatur pembakaran kalori dengan penjadwalan kegiatan seks karena memang menurut perhitungan medis berhubungan seks akan membakar kalori sangat banyak. Hal beginian dibahas dimuka umum, wuih…amerika banget. Acara ini memang bertema sederhana tapi dikemas sedemikian menarik. Oprah (atau orang-orang dibaliknya?) selalu pandai mendesain acara. Aku jadi punya sedikit wawasan mengenai LOSS WEIGHT yang ternyata berhubungan dengan diriku sendiri saat ini.

Pada lebaran kali ini, banyak kesempatan untuk bernostalgia. Aku sebetulnya sangat senang bertemu dengan orang-orang lama, bisa bertukar pikiran, berbagai pengalaman, dan saling memberi masukan. Kadang-kaddang orang-orang ini memberikan penilaian pada diri kita dengan membandingkan pertemuan sebelumnya. Misalnya, “Wah..dah setahun nggak ketemu tambah sukses ya sekarang. Setahun yang lalu kamu kan masih….sekarang jadi….dst”. Buat aku, ini adalah semacam evaluasi diri. Tapi ada juga yang agak membuat risih kalau ketemu karena omongannya basi-basi banget, salah satunya tentang penampilan. Dan yang paling membuat aku risih pada lebaran kali ini adalah komentar orang-orang yang seragam : KAMU KOK KURUS BANGET SIH SEKARANG. Sudah tak terhitung berapa banyak orang berkomentar seperti itu. Masa sih, nggak ada komentar lain selain berat badan, emang penting ya?

Aku baru tersadar untuk berpikir hal ini secara serius ketika kakekku yang berkomentar. Katanya aku kurus pasti karena pola hidupku yang berubah terutama soal jam biologis atau kebanyakan pikiran. Kemudian aku dinasehati agar jangan keterlaluan pada diri sendiri. Selama ini aku memang tidak begitu perhatian pada fluktuasi berat badanku. Tapi seingatku sekitar tiga bulan yang lalu beratku masih 45-46 kg, pas awal puasa mungkin sekitar 43-44 kg, sekarang mungkin turun 1-2 kg. Jadi kalo dihitung-hitung, lumayan juga turunnya, tapi kan nggak terlalu banyak.

Aku jadi ingat akan prinsipku soal berat badan. Pertama, tidak boleh gemuk, orang gemuk pastinya kebanyakan lemak-kolesterol, nanti gampang kena penyakit. Lagipula orang gemuk nggak enak dilihat, bikin aku nggak pede aja. Ada satu ungkapan lagi dari temanku dulu, namanya Nita Supriyati : Orang yang gemuk itu pastinya orang yang nggak bisa mengurus dirinya sendiri, orang yang nggak bisa mengendalikan diri, dan kurang bertanggung jawab. (Ini sih pendapat ekstrim, nggak sepenuhnya benar, tapi kadang-kadang ada benarnya kalau kita kasus beberapa orang). Kedua, tidak boleh terlalu kurus juga, orang kurus biasanya kurang gizi yang kemudian membuat daya tahan tubuh jadi lemah sehingga jadi mudah sakit. Aku juga tidak mau sakit-sakitan, membuatku jadi tidak produktif.

Kalau sekian banyak orang berkomentar aku terlalu kurus aku jadi berpikir, emang iya? Emang kenapa kok bisa begini ya? Suatu hari, aku mematut diriku di depan kaca dan baru kulihat dengan detil, wajahku yang menjadi agak tirus, tulang-tulang tangan dan leher yang menonjol. Hal ini semain terbukti ketika aku pergi ke penjahit langgananku untuk mengukur kebaya. Kecuali tinggi badan, semua ukuran berkurang 2-4 senti, seperti lingkar dada, pinggang, dst (aku nggak ngerti detilnya). Maka aku mencoba menganalisa diriku sendiri, ada apa dengan diriku sampai begini. Kukira ada banyak hal yang menjadi penyebabnya.

Sejak bulan Juli aku memang mengikuti jadwal senam aerobik disebuah klub senam dekat tempat tinggalku. Aku tidak pernah berniat untuk menurunkan berat badan, aku hanya ingin KEBUGARAN karena kupikir aku memang jarang berolahraga. Rekan-rekan kerjaku pada heran kenapa juga aku mesti senam, kata mereka aku sudah punya postur tubuh yang bagus (kecuali soal tinggi badan lho…haha). Mereka selalu geleng-geleng kepala ketika melihat aku tergesa-gesa meninggalkan temapat kerja tepat waktu, pada hari Senin dan Rabu sore, kadang setengah berlari untuk mengejar jadwalku agak tidak terlambat di tempat senam. Di tempat senam, ibu-ibu (yang memang postur tubuhnya rata-rata overweight) juga heran kenapa aku yang tidak bermasalah dengan berat badan masih ikut senam. Sejak aku aku rutin, dua kali kali seminggu melakukannya aku memang merasa jauh lebih fit, bahkan migrain yang biasa aku derita ketika kelelahan sudah tidak pernah datang lagi. Dan aku tetap bekerja seharian dengan penuh vitalitas. Sungguh, aku tidak merencanakan kegiatan ini untuk memberi dampak pada berat badan.

Ketika aku masih kecil sampai aku berusia 18 tahun aku adalah vegetarian murni, tidak mau makan yang namanya daging, ayam, telur dan semacamnya, bahkan bakso saja tidak. Di rumah, ibuku selalu menyediakan makanan sesuai yang aku mau. Tapi sejak kuliah, jadi anak kost aku tidak bisa pilih-pilih makanan. Maka aku mulai belajar makan makanan yang dulu aku tidak mau, sekarang aku sudah terbiasa dengan berbagai macam makanan meskipun ada saat-saat tertentu aku masih  ‘kumat’ dan pilih-pilih makanan. Nah sejak ikut senam, aku mulai kembali ke’habitat’ku, nggak vegetarian full seperti dulu tapi food combining. Katanya ibu-ibu di tempat senam pola makan ini akan lebih sehat untuk sistem pencernaan kita. Aku juga tidak merencanakan  kegiatan ini untuk menunkan berat badan tapi untuk kesehatan saja.

Aku memiliki kecenderungan workaholik. Mungkin sekian banyak energi yang digunakan untuk bekerja telah membakar lemak dalam tubuhku. Di satu sisi yang positif ini adalah kekuatan pribadi yang mengarah pada tanggung jawab dan komitmen untuk melakukan segala sesuatu sampai tuntas dan berusaha memberikan yang terbaik. Secara formal, aku dijadwal bekerja 8 jam sehari tapi aku selalu bekerja lebih. Aku menambah rata-rata 2 jam setiap hari karena kukira memang waktu  8 jam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan sekian banyak pekerjaan yang dibebankan. Dan itu dilakukan oleh banyak orang, bukan aku saja, lembur adalah suatu hal biasa di tempat kerjaku. Bahkan saat-saat tertentu aku bisa bekerja 12 jam sehari atau lebih. Di satu sisi yang negatif ini adalah kelemahan pengelolaan stres. Kadangkala ketika aku memiliki beban pikiran yang membuatku tertekan, aku melampiaskannya dengan bekerja. Aku merasa jika tidak melakukan sesuatu maka aku akan semakin kebingungan. Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bersitegang dengan kepala sekolah. Setelah peristiwa aku jatuh, keesokan harinya aku masih masuk karena banyak tanggung jawab yang mesti kulakukan hari itu, meski kepalaku masih pusing. Tiga kali aku didatangi dan disuruh pulang dari nada halus, memaksa, dan marah. Sampai orang-orang lain kena marah juga karena membiarkan aku beraktivitas (Suruh Ani pulang, memang nggak ada orang lain yang bisa ngganti!). Aku tetap saja beraktivitas seharian sehingga sampai malam hari  kami masih berdebat melalui sms, dan dengan nada kesal beliau mengatakan bahwa tubuhku punya hak untuk istirahat.

Terakhir, aku harus mengakui bahwa selera makanku memang menurun  beberapa bulan terakhir, mungkin juga beratku turun karena hal ini. Ibu kosku selalu ngomel-ngomel karena aku selalu ambil nasi sedikit (ngomel-ngomel yang maksudnya baik). Katanya kalo makan sedikit, tar aku sakit soalnya kerjanya kan sering pulang malam, butuh banyak energi. Beberapa orang punya kecenderungan melampiaskan kondisi stres mereka dengan banyak makan, memang ini adalah adalah satu benyuk katarsis sesaar yang efektif untuk menenangkan pikiran. Beberapa orang yang memiliki beban pikiran malah tidak memiliki nafsu makan. Nah, aku kayaknya lebih dekat dengan tipe yang terakhir. Apa-apa yang terjadi dalam pikiranku, yang sedang mengusik jiwaku jadi berpengaruh pada mekanisme tubuhku. Ini adalah suatu yang tidak dapat dipungkiri bahwa tubuh, pikiran, dan jiwa adalah satu kesatuan (Makanya di Metro TV ada acara yang judulnya BODY, MIND, SOUL, aku suka banget liat acara ini).

Rumah di desa yang kucinta

Sunday, October 22nd, 2006

Desaku yang kucinta…artinya sebuah desa dimana rumah kedua orangtuaku ada. Dimana ada hamparan tanah sawah di depan rumah itu, yang sejauh mata memandang akan berwarna hijau. Dimana aku berkumpul dengan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan aku sampai sekarang. Dimana aku bersama orang-orang rumah akan berjalan di kedinginan subuh atau senja untuk menuju langgar. Dimana siang hari diisi dengan kesibukan menata rumah atau sekedar bersantai di pelataran belakang rumah. Dimana ada hidangan makanan yang selalu menggugah selera, hasil karya ibuku. Dimana ada diskusi-diskusi yang kadang penuh gelak tawa kadang juga menjadi panas atau berakhir dengan suara bisu.

Rumah di desa yang kucinta…yang membuatku terharu setiap kali merasakan kasih sayangnya. Seperti peristiwa yang barusan kulewati. Dengan berbekal penghasilan yang kumiliki, kuingin memberikan sesuatu untuk orang rumah. Aku pikir akan cukup berarti buat keluarga, ya memang…tapi ternyata tidak cukup berarti buat diriku sendiri. Dengan keriangan seorang anak kusampaikan oleh-oleh yang kubawa dari metropolis, tapi ternyata ketika aku memasuki kamarku…aku terhenyak oleh tempat tidur yang rapi, dengan sprei baru, beberapa helai gaun, juga sebuah meja rias baru, yang bentuknya mungil dan indah. Untuk apakah kamarku ditata sedemikian rapi jika aku tidak hanya menempatinya sesekali saja. Tak habis-habisnya orangtua memberikan yang terbaik untuk anaknya. Lalu kapankah aku bisa membalas kebaikan mereka? Tidak akan pernah bisa kan…

Rumah didesa yang kucinta…yang selalu memberikan inspirasi dalam obrolan yang mengalir. Seperti kejadian tadi malam aku berdiskusi dengan Bapakku tentang fenomena mudik. Merantau adalah suatu jalan yang  ditempuh oleh banyak orang, untuk mencari penghidupan yang dinilainya lebih baik, ya sekolah ya bekerja. Jika tidak ada tradisi mudik pada Hari Idul Fitri seperti yang ada di Indonesia, berapa banyakkah orang yang tetap akan mengunjungi orangtua dan kerabatnya di tanah asal? Tradisi ini kadang berlebihan karena mudik disertai dengan penghamburan uang untuk kepentingan sesaat. Tapi kata Bapakku, mudiknya anak-anaknya adalah kesempatan berkumpul dengan seluruh anggota keluarga dalam waktu yang cukup lama (seminggu lebih lho!, biasanya aku pulang kan cuma sehari) dan buat para orangtua hadirnya anak-anak di rumah sudah cukup memabahagiakan mereka. Ah..aku jadi inget fenomena EMPTY NESS yang ada di psikologi perkembangan. Orang yang sudah memiliki usia paruh baya, akan mengalami ‘kekososngan sarang’ karena anak-anaknya telah keluar dari rumah mencari kehidupannya masing-masing. Makanya, kita mesti semangat pulang ke rumah untuk membahagiakan orangtua. Obrolan seru lainnya adalah tentang investasi. Melalui diskusi ini aku semakin sadar bahwa selama ini aku kurang bisa mengelola uangku dengan baik. Menabung tidak terlalu banyak dan hanya membiarkan dana itu digunakan oleh orang lain karena kupercayakan untuk tetap di bank. Oleh karena itu, setelah lebaran ini aku memutuskan untuk mengelola uangku untuk investasi yang lebih menguntungkan. Tahu? Aku akan be-ternak sapi. Mungkin untuk awalan, dengan dana yang kumiliki cuma bisa punya satu, tapi 2-3 tahun lagi akan bertambah lebih banyak. Asyik kali ya…

Madrasah Ruhaniah

Tuesday, October 17th, 2006

Madrasah Ruhaniah adalah sebuah judul buku karangan Jalaluddin Rakhmat yang berisi tentang perenungan-perenungan dalam bulan Ramadhan. Di bulan yang suci ini, jiwa kita benar-benar di tempa dalam sebuah sekolah (madrasah) untuk meningkatkan kualitas keruhanian kita.

Sepertinya bulan ini memang istimewa untuk memberikan pembelajaran ruhaniah. Meskipun ada juga suara-suara tajam yang kurang sepakat. Seperti sebuah email yang saya terima dari rekan bernama Muhammad Deddy Hanif kemarin berjudul : Selamat Berdagang. Dia menyuplik salah satu tulisan orang lain yang menyatakan bahwa ada orang-orang yang beribadah dengan prinsip pedagang, yaitu mendapatkan untung-rugi. Orang-orang yang menjadi sangat rajin beribadah karena mengharap pelipatgandaan pahala. Rekanku yang satu ini memang kristis, agak sinis, dan selalu bisa saja menemukan sisi negatif dari suatu fenomena.

Aku tetap bersepakat dan meyakini bahwa keberadaan bulan Ramadhan ini membawakan makna pembelajaran yang sangat dalam karena aku mengalaminya sendiri. Setiap bulan Ramadhan ini tiba, bahkan di tahun-tahun yang yang sudah berlalu aku selalu mendapati nuansa kejiwaan yang berbeda. Ada suatu kedamaian karena kedekatan dengan Sang Pencipta. Aku bersyukur karena diberikan kesempatan berupa lingkungan yang menggelorakan semangat Ramadhan baik itu di tempat aku tinggal maupun tempat aku bekerja. Begitu pula dengan peristiwa-peristiwa yang kulalui di bulan ini, sungguh menambah pembelajaran tentang keruhanian.

Di tempat aku bekerja, semangat menggelorakan Ramadhan sangat nampak dari kegiatan-kegiatan khusus. Sekolah Islam ini mencanangkan program-program dalam rangka mendorong siswanya bersemangat beribadah dan meningkatkan akhlak. Dari berbagai macam kegiatan ini, yang paling berkesan adalah pertemuan dengan anak yatim, bermain bersama, dan pembagian bingkisan yang dikumpulkan dari sumbangan seluruh warga sekolah. Kepala Sekolah memberikan tausyiah yang intinya kita sangat beuntung bisa mencintai anak yatim karena Rasulullah pernah bersabda : Aku dan anak yatim adalah seperti dua jari (dekatnya) di surga nanti. Yang membuat aku terharu adalah persembahan kecil dari perwakilan anak yatim berupa lagu berjudul Ayah Ibu. Dalam lagu itu mereka mengungkapkan kerinduan pada Ayah Ibu yang tidak mereka miliki, serta doa mereka semoga Allah memberkahi sekolah ini. Satu peristiwa lain yang membuatku berurai air mata haru adalah dalam suatu acara tilawah pagi. Pagi itu, setelah membaca Al-Quran bersama-sama ada sebuah tausyiah oleh Ustad Muzammil yang intinya menyatakan bahwa di bulan Ramadhan ini doa-doa akan mustajab. Seusai tausyiah, Ustad Edy Kutjoro (kepala sekolah) memimpin doa. Awalnya doa-doa umum tentang ungkapan syukur, kemudian doa untuk orangtua (waaaa…yang ini aku sudah mulai terisak-isak), setelah doa untuk murid-murid kami, setelah doa untuk para ustad-ustadah, dimana ada satu ucapan khusus : semoga teman-teman kami yang masih sendirian segera Engkau pertemukan dengan pasangannya agar mereka dapat menyempurnakan agamanya. Hampir semua yang hadir menangis bersama di pagi itu. Sungguh…adakah sebuah tempat bekerja yang memperhatikan urusan kerohanian kita sedetail itu.

Di tempat aku tinggal, dimana ada sebuah masjid kecil di sebelah rumah yang juga menggelorakan semangat Ramadhan, aku mendapatkan berbagai macam pembelajaran. Manajemen masjid yang sangat rapi dengan orang-orang di lingkungan Kebonsari LVK yang menunjukkan semangat mereka dalam meningkatkan kualitas diri membuatku kagum. Lingkungan ini ditinggali oleh sebagian besar orang yang berada, bahkansangat kaya , tapi mereka tidak melupakan Tuhannya, tidak mengabaikan akhiratnya. Gotong-royong mereka dalam memakmurkan masjid dengan berbagai macam kegiatan membuatku luluh, serta mendorongku untuk turut berpartisipasi. Sudah tak terhitung berapa banyak ceramah setelah tarawih yang membuat merenung, yang kemudian mendorongku untuk membuka mushaf Quran untuk mendalami sendiri, yang membuatku lebih bersemangat untuk terus datang ke masjid itu dari waktu ke waktu. Begitu pula kuliah-kuliah Subuh di pagi hari yang selalu memberikan pencerahan yang selalu membuatku menyesal jika melewatkan satu saja kesempatan karena ada halangan. Salah satunya yang disampaikan oleh rekan saya, Ridho Adi Hernowo. Kuliahnya pagi ini membuatku terkesan karena apa-apa yang dia sampaikan sangat mirip dengan filosofi yang aku terapkan pada diriku sendiri. Meskipun esensi ceramahnya sudah umum, aku tetap terkesan dengan caranya yang khas, kebetulan latar belakang keilmuannya manajemen. Dia menguraikan tentang metode beribadah yang teratur ala manajemen. Mulai dari teori sistem (input-proses-output) yang membuat kita beribadah harus merasa ada pengawasan yang lekat, teori goal-setting yang membuat kita beribadah harus terencana sesuai visi dan dipetakan terperinci, konsep evaluasi yang membuat kita beribadah dengan senantiasa melakukan evaluasi-muhasabah agar tahu kelebihan dan kelemahan kita, konsep reward-punishment yang membuat kita beribadah dengan berusaha meningkat kualitasnya, serta konsep motivasi bahwa ibadah mesti dilakukan dengan kesungguhan selayaknya berjihad.

Masih banyak pembelajaran yang melekat, namun keterbatasanku menuangkan dalam kata-kata menjadikan tulisan mungkin masih terlalu sempit untuk memberikan pemaknaan tentang bulan Ramadhan. Semoga yang sedikit ini bermanfaat, bagi diri saya sendiri maupun pembaca…

What is in a name

Monday, October 16th, 2006

What is in a name? Wheter it called by rose or by any other name, it’s still a flower that smell sweet (Romeo and Juliet - Shakespeare)

Dalam satu minggu ini aku mendapat sebuah pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang berbeda, semunya siswaku di SMA Al-Hikmah kelas satu. Mereka bertanya : kenapa ustadah bernama Christina, apakah ustadah seorang mualaf? Mungkin sudah lama juga mereka menyimpan pertanyaan itu dan akhir-akhir ini mendapat momen yang pas untuk ‘berani’ bertanya langsung. Akhir-akhir ini aku sangat dekat dengan mereka karena tergabung dalam satu kepanitian pondok Ramadhan.

Sebenarnya ini adalah pertanyaan yang sangat sering muncul dalam sebuah acara perkenalan. Namaku yang berbau Nasrani ini mungkin tidak cocok dengan penampilanku yang Islami. Lewat website ini kunyatakan, sejujurnya aku sudah jenuh untuk menjawab. Ini hanyalah sebuah sejarah masa lalu yang kalau aku ceritakan sangat panjang, dan sesuatu yang sensitif buat aku. Aku pahami ada sebuah ungkapan bahwa nama adalah sebuah doa dari sang pemberi. Dan aku sadar tidak mungkin yang memberi nama untukku mendoakan sesuatu yang kurang baik. Aku coba berpikir positif saja…

Lagipula apakah nama memang mencerminkan segalanya? Jikalau aku bernama lain apakah aku akan menjadi orang yang berbeda, tidak juga bukan…Aku tetap dengan karakterku, tampilan fisikku, pikiran dan perasaan yang mengalir dalam diriku, dengan segala kelebihan dan kelemahanku…

Trust Fall

Friday, October 13th, 2006

Kemarin aku mengalami suatu peristiwa luar biasa. Aku hampir saja membuat diriku sendiri terluka, hampir saja membuat diriku sendiri patah tulang, hampir saja gegar otak, hampir saja mati (yang terakhir ini terlalu ekstrim ah). Aku melakukan simulasi trust fall dalam sebuah sesi pelatihan bersama anak-anak didikku di SMA Al-Hikmah. Sebenarnya ini adalah permainan yang sangat umum dilakukan dalam dunia pelatihan tapi memang resiko agak mengerikan.

Secara umum teorinya menyatakan bahwa kunci permainan ini adalah KEPERCAYAAN. Jika peserta yang menjatuhkan diri PERCAYA pada teman-temannya maka dia akan sukses jatuh dan diterima baik oleh teman-temannya dibawah. Tingkat kepercayaan ini ditunjukkan dengan posisi jatuh peserta, yaitu tubuh jatuh seperti layaknya pohon tumbang lurus ke samping. Ternyata aku membuktikan kebalikannya. Peserta yang jatuh akan sukses diterima jika teman-teman yang menerima di bawah juga PERCAYA bahwa mereka bisa menangkap peserta yang jatuh.

Pada waktu itu, sebagai contoh pertama, aku menjatuhkan diriku dengan percaya dirinya, dan memang aku bisa jatuh dalam posisi pohon tumbang. Logikanya, sekitar 8 orang itu pasti bisa menangkap badanku yang hanya 44 kilogram ini dengan baik. Walhasil ternyata aku jatuh sampai di lantai, tubuhku hanya sempat menyentuh tangan-tangan peserta namun akhirnya mrusut ke bawah, dan tubuhnya sampai di lantai tetap dalam keadaan lurus. Yang paling terasa dari bagian kepala sampai pantat membentur lantai sampai terdengan bunyi ‘jedug’. Selama sekian detik aku masih terpana dengan kejadian itu. Telah sekian kali aku melakukan trust fall di berbagai macam pelatihan tidak pernah aku mengalami kegagalan, cuman dulu di awal-awal aku masih belum sempurna karena jatuhnya melengkung.

Pada waktu peristiwa itu terjadi, anak-anak didikku menangis dan berteriak-teriak. Aku sempat bingung tentang keputusan apa yang mesti aku ambil dalam keadaan seperti ini. Aku berpikir bahwa jika aku tidak melakukan sesuatu maka anak-anak didikku akan keluar dari ruang pelatihan ini dengan membawa trauma dan tujuan pelatihan ini (kemampuan untuk mengelola emosi) tidak akan tercapai. Maka aku kuatkan diriku sendiri, dengan sakit fisik yang terasa disekujur tubuhku dan perasaan tidak karuan, untuk melakukan refleksi kejadian. Aku yakinkan kepada mereka bahwa ini adalah kejadian luar biasa yang menunjukkan bahwa kepercayaan harus ada dari kedua belah pihak. Dengan berbagai macam argumentasi, akhirnya aku dapat meyakinkan mereka untuk mau mengulangi simulasi.

Pada waktu simulasi kedua ini, perasaan khawatir sedikit merayapi diriku, berbeda dengan yang pertama dapat kulakukan dengan penuh percaya diriku. Aku mensugesti diriku sendiri untuk berpikir positif agar PERCAYA pada mereka dan bisa melakukan trustfall ini. Dan akhirnya yang kedua ini berjalan mulus, aku dapat jatuh dengan sempurna dan diterima dengan sempurna. Anak-anak didikku bersorak-sorak dan menunjukkan kepercayaan diri, dan mereka berjanji hari pelatihan berikutnya akan mau mencoba satu per satu. Aku akhirnya dapat bernafas lega ketika menutup sesi hari itu.

Ketika pulang ke rumah, kurasakan badanku sakit terutama bagian punggung bawah. Kepalaku masih sedikit pusing. Kata partnerku, jika ada gejala mual atau muntah dan pusing berkepanjangn maka ada kemungkinan gegar otak. Tapi sampai di rumah, tidak ada satu keluhan yang berarti, cuman kemeng pada pagian tengkuk dan punggung bawah. Mungkin yang menyelamatkan aku adalah ke-PERCAYAAN-anku pada mereka sehingga posisi jatuhku yang sejajar lantai meng-aman-kan tubuhku.

Ada sebuah rasa puas yang kurasakan, dengan kejadian tadi aku merasa anak-anak didikku belajar tentang beberapa hal. Bagaimana kita harus percaya pada kemampuan kita, percaya pada orang lain, belajar menerima resiko, dan banyak lagi. Aku sendiri juga belajar tentang bagaimana melaksanakan tanggung jawab sebagai seorang pendidik yang harus benar-benar bisa mengantarkan anak-anaknya pada pembelajaran yang bermakna. Satu lagi, aku percaya bahwa jika aku melakukan semua proses ini dengan tulus dan penuh kasih sayang pada anak-anak didikku, maka tidak akan ada suatu yang sia-sia, termasuk pengorbananku jatuh ke lantai itu. Tapi masih sedikit sakit nih…. 

The First School in The World

Monday, October 2nd, 2006

I usually join English class on Mondays and Wednesdays. I learn four English skills, there are listening, reading, writing and speaking. This is one of my writing product during the program. Hopefully, It could be something that inspire you about the meaning of family.

Family: The First School in The World

            When I was a child, I used to be confused by my parent attitude or behavior. Sometimes, I thought that they cared me so much but at the same time they didn’t understand me. I could realize how difficult to be a parent since I became counselor. I just know that all of they do, that I feel bad or good, are the way they teach me to be a good child. I will explain some of values that I can realize that I have learned so many things from them.

I learn from them that there is a relationship between marriage quality and development quality of their children. All the moment in marriage life will create the atmosphere for the children. A harmonic marriage support their children to learn how solve their problem.

I learn from my parents that a couple should have a clear vision and agreement about how they educate their children. The implementation of the vision could be different between father and mother, but the core goal should be the same.

I learn from my parents that children education should be planned not only for parent’s goals but also for completing children’s need. Good parents can understand their children point of view in their mental age. I realize that children and parent often have a different perception, but they should tolerate each other.

I learn from my parent that parent and children should have intimacy. Both of mother and father have role to educate their children. Father has a strong role in area of leadership. Mother has strong role in character building. Mother educates in frame of love, softness, and sincerity.

I learn from my parents that giving all things that children want is not good for education. Having all things will make the children happy but they can’t learn a real life. Real life is something unpredictable and many things can happen although we don’t like or want. Parents usually give all children want because they try to give the best and avoid they children feel suffering. I realize the way of thinking will impact immature children who don’t have independent attitude and weak life survival.

I learn from my parents that adult think that they know much about what the best for their children. Then, they force their children to follow all their decisions. I realize that this kind of behavior will create authoritarian parent and support their children have a rigid personality and low social competence. I learn from my parents that wise parents can give a lot of attention, make an open communication, and emphasize the rule of discipline.

I learn from my parents that how good children development is affected by how much the parent spend their time together with children. How great children achievement is affected by how strong parent commitment to support their children. How happy their children is affected by how large parent’s attention to their children.

I learn from my parents that mother and father are the first and the most important person to imitate. Parents who want their children have a good development should make them learn to be a good person for time to time.