Kritik itu menyakitkan tapi bermanfaat
Thursday, November 30th, 2006Sebagai konselor, aku diberi jatah untuk masuk kelas sebanyak 1 jam pelajaran tiap pekan untuk kelas X (istilah KBK untuk kelas 1 SMA). Sesuai dengan silabus yang telah dibuat di awal semester, pekan ini pembelajaran sampai pada bagian Pengembangan Kepribadian, dengan topik menerima kritik sebagai pemicu perubahan diri agar lebih baik.
Dalam pembelajaran kali ini aku mengawali kelas dengan memutar lagu instrumen dari album soundtrack serial sinema korea yang pernah diputar di salah satu stasiun televisi. Kupilih cara ini karena kelas anak kelas putri cenderung menyukai drama romantis ala korea. Ketika mendengar dentingan awalnya, beberapa anak putri sudah berteriak…gotcha…sesuai dengan prinsip joyfull learning, membangun suasana yang menyenangkan.
Setelah memperdengarkan beberapa lagu dengan volume keras, aku melanjutkan pembelajaran dengan bercerita tentang pengalaman hidupku dalam menerima kritik-kritik yang cukup mengguncang diriku dengan iringan musik bervolume rendah. Metode story telling hampir selalu menarik, karena manusia suka mendengarkan kisah. Aku biarkan mereka mengambil posisi setengah tiduran, duduk selonjor santai di area basement (semacam aula).
Cerita pertama tentang kritik postur tubuh. Ketika awal masa kuliah, seseorang bernama Nita Supriyati pernah memberikan kritik bahwa seorang yang gemuk itu berarti tidak bisa mengurus dirinya sendiri, tidak memiliki tanggung jawab, dan pastinya tidak bisa mengurus orang lain. Aku memang pernah memiliki berat badan 48 kg dan kritik yang begitu menyakitkan itu mendorongku untuk lebih bisa mengatur diri sampai aku bisa menurunkan berat hingga 42 kg.
Cerita kedua tentang kritik kepandaian dalam melakukan retorika. Pada waktu semester 1 kuliah, aku mengikuti sebuah kelompok studi yang sering membahas wacana filsafat. Suatu hari seorang senior bernama Helmi Firdaus, di depan banyak orang mengatakan, “Kamu memang pintar ngomong, tapi itu tidak cukup membuktikan bahwa kamu orang yang memiliki pemikiran yang bagus. Kamu harus bisa membuktikannya lewat tulisan”. Dengan agak dongkol akhirnya aku mencoba untuk menulis dan baru menyadari bahwa menulis itu tidak mudah. Menulis berarti menemukan ide, merangkai kata untuk menampilkan ide tersebut, dan merangkai kalimat agar ide itu bisa terbaca sebagai gagasan yang bisa dinikmati orang lain. Aku sering menemukan kebuntuan dari proses ide, merangkai kata, maupun merangkai kalimat. Tapi aku selalu berusaha untuk mencoba dan mencoba menulis.
Cerita ketiga masih tentang tulisan, pada waktu itu aku menulis tentang “Sindroma Mahasiswa Psikologi”. Dalam tulisan itu aku mencoba meniru gaya tulisan Gede Prama, dimana setelah pemaparan ide, ada bagian akhir yang menyangkal ide. Seorang kawan bernama Budi Setiawan mengatakan : Tulisan yang kamu buat itu mungkin bermaksud menunjukkan kerendahan hati tetapi malah menunjukkan kamu rendah diri. Aku jadi merasa tidak enak karena dikritik, tapi toh aku tetap menulis lagi dengan memperbaiki gaya tulisanku.
Cerita berikutnya juga tentang tulisan. Betapa senangnya diriku ketika tulisanku pertama kali dimuat di media massa. Waktu itu aku menulis tentang kasus kematian mahasiswa STPDN. Dalam tulisan itu, aku mengkritisi pendidikan dengan kekerasan hanya akan membentuk manusia dengan pribadi yang keras dan mengusulkan pendekatan andragogi. Beberapa hari setelah itu, sebuah surat yang dikirim ke alamat fakultas kuterima dan membuatku cukup shock. Penulisnya adalah alumni mahasiswa STPDN (sayang aku lupa namanya), dia memprotes tulisanku di koran dengan mengatakan bahwa sebagai mahasiswa psikologi aku tidak memiliki empati, memandang kasus itu hanya dari sudut kekerasan tetapi tidak memikirkan bahwa ada komunitas yang terpojok akibat tulisan itu, termasuk dia. Aku jadi agak menyesal karena telah membuat tulisan yang terlalu tajam dan membuat beberapa hati jadi merasa sakit karena tulisan itu. Jika ada yang berani menulis surat padaku, bagaimana dengan yang tidak berani? Pasti ada jumlah yang lebih banyak. Tapi aku tidak berhenti menulis, aku coba lebih berhati-hati jika ingin menulis ke media massa, aku pikir lebih dalam apakah akan ada orang yang dirugikan jika membaca tulisanku.
Cerita kelima tentang kritik tentang keangkuhan. Ketika kuliah semester 6, aku mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata) dimana pada akhir program para perwakilan mahasiswa mesti mempresentasikan hasil kerja mereka pada Pemkot Surabaya. Kebetulan aku adalah salah satu presenternya. Ketika malam hari, datang suatu sms dari seorang bernama Ahmad Safril Mubah yang menanyakan bagaimana presentasi hari ini. Dengan nada percaya diri kukirimkan sms : ya sukses dong, kan Ani yang presentasi. Seketika itu ada balasan sms yang menyatakan bahwa : Ya Allah, telah ada nada keangkuhan dalam dirinya. Semoga Engkau memberi bimbingan padanya. Aku sungguh tersentak dan menjadi tersadar bahwa ada perbedaan yang tipis antara kepercayaan diri dan keangkuhan.
Cerita terakhir tentang kejadian ujian skripsi. Ketika sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan tidak dapat kujawab dengan baik. Para penguji kemudian menyerang aku dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis, semakin membuatku terpojok meski jawaban masih terus mengalir dalam lisanku. Aku menjadi terdiam ketika ada lontaran tajam sebagai berikut : dengan penelitian yang sembrono seperti ini kamu tidak layak untuk lulus, apa gunanya sering ikut lomba karya ilmiah tapi skripsinya cuma begini. Kamu terlalu percaya diri kalau merasa bisa melewati ini semua dengan baik. Kalau kamu tidak lulus fakultas ini bisa goncang, masa’ mahasiswa berprestasi tidak lulus ujian skripsi. Aku benar-benar terpaku sampai akhirnya sidang ditutup tanpa keputusan mengenai kelulusan. Aku benar-benar terpukul dan hanya bisa menangis terisak-terisak sewaktu keluar dari ruang ujian. Usai sidang aku diminta untuk menghadap secara khusus pada ketua juri, namanya Bapak Ino Yuwono. Beliau dengan nada yang sangat halus dan bijaksana berkata : Sebenarnya tidak ada masalah dengan penelitianmu, yang bermasalah adalah mentalmu. Kamu memang pintar dan cerdas, tapi itu belum apa-apa untuk dijadikan bekal keluar dari fakultas dan terjun ke masyarakat. Kalau kamu merasa penelitianmu baik, nanti kamu akan menjadi over confidence, terlalu percaya diri. Percayalah, dunia kerja, dimanapun kamu nanti, itu sangat rumit. Kamu harus belajar banyak hal dan perjalananmu masih panjang. Untuk bertahan dalam kehidupan masyarakat dan menjadi sukses jangan pernah punya sikap berpuas diri, percaya diri dengan apa yang sudah dimiliki, kamu mesti punya semangat belajar terus menerus.
Setelah menceritakan beberapa kisah hidupku, aku memberikan pemaknaan pada para siswaku bahwa kritik itu memang menyakitkan. Tapi sesungguhnya kalau kita mau memperhatikan dan mengambil pelajaran, kritik itu ternyata membawa manfaat. Dari kisah-kisah tadi aku berharap mereka mendapat pengetahuan dan pemahaman baru. Jika kita bisa melihat kritik dari orang lain dengan cara berpikir yang positif, maka akan memacu kita untuk memperbaiki diri. Mungkin kita malah harus berterimakasih pada orang-orang yang mau mengkritik kita, artinya mereka memberikan masukan agar kita menjadi lebih baik. Kemudian aku meminta mereka untuk menuliskan kritik yang pernah datang dalam kehidupan mereka. Disini aku menerapkan prinsip Self Disclosure : jika ingin membuat orang lain terbuka tentang suatu hal, maka bukalah diri Anda terlebih dahulu. Maka dengan bersemangat para siswaku menuliskan pengalaman mereka dan ketika aku baca seusai pembelajaran, sangat menyentuh hati karena kisah-kisah yang personal dan mungkin bagian dari rahasia hidup mereka. Bahkan beberapa anak masih mendatangiku untuk berdiskusi lebih jauh tentang makna kritik. Gotcha…artinya mereka mulai tersadar pentingnya kritik dalam hidup mereka. Dengan pembelajaran kali ini, aku semakin merasakan nikmatnya menjadi seorang pendidik. Suatu kenikmatan ketika kita dapat membagikan sesuatu untuk anak-anak, dan melihat mereka memahami sesuatu yang baru, dan mulai berubah ke arah yang lebih baik karena proses itu.