Archive for December, 2006

Kado Akhir Tahun

Friday, December 29th, 2006

Pagi ini sebuah kejutan diberikan kepadaku, aku sudah ngerasa karena ada ‘bisikan’. Seperti biasa, acara tilawah pagi di sekolah selalu dilakukan untuk membuka setiap hari kerja kami. Usai tilawah, Kepala Sekolah menyampaikan rasa terimakasih atas partisipasi ustad ustadah dalam memotivasi anak-anak mengumpulkan dana Idul Qurban, terkumpul uang senilai lebih dari 20 juta dan belasan kambing dari siswa yang jumlahnya hanya 115 orang. Kemudian beliau berdiri mengangkat sebuah bingkisan yang ditujukan kepada sebuah nama (ternyata yang tersebut namaku), katanya karena prestasi selama satu semester ini. Apa saja, banyak kriteria mulai dari kedisiplinan, kinerja, lucunya karena lompatan hasil pelatihan bahasa Inggris, juga karena rajin menulis untuk sekolah mulai untuk acara seminar dan di koran (padahal aku menulis untuk kepentingan aktualisasi diriku sendiri). Sesungguhnya aku benar2 malu, menurutku kerjaku tidak seberapa dibanding teman-teman guru lainnya yang akhir2 ini bekerja keras membuat silabus KTSP dan mempersiapkan UAS, juga seabrek aktivitas lainnya. Sepertinya, pekerjaan mereka belum kelihatan hasilnya tetapi sesungguhnya kerja mereka sangat berat.

Pada waktu diminta untuk menerima bingkisan aku benar2 ragu untuk beranjak dari tempatku duduk bersila, tetapi kemudian ‘diteriaki’ agar segera berdiri karena waktu briefing pagi hampir habis. Aku coba mantapkan hatiku, Allah telah memberikan karunia-Nya padaku, hanya karena kehendak dan ijin Allah aku bisa melakukan semua ini, bisa mempersempahkan prestasi seperti ini, semoga penghargaan ini tidak membuatku merasa terlalu berbangga kemudian menimbulkan penyakit hati yang lain. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perilaku buruk yang didasari penyakit hati…

Terimakasih untuk semua rekan di SMA Al-Hikmah yang membuat aku bisa berkarya dan berprestasi seperti sekarang ini. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa mengukir prestasi apapun. Sungguh betapa perhatian kalian padaku. Sebuah kado yang (sepertinya) memang aku butuhkan saat ini yaitu sebuah radio tape yang ukurannya cukup besar. Siapa sangka, curhatku beberapa hari yang lalu disimak dengan seksama : radio-tape pemberian adikku tersayang, yang ukurannya 10 kali 15 centimeter itu terjatuh ke dalam bak air ketika suatu pagi aku membawanya ke kamar mandi, dan langsung tidak berbunyi ketika kuambil dari dalam bak (kata adikku, bagaimana mungkin aku membawa radio ke kamar mandi, kurang kerjaan, gak punya perhitungan…hehe ya bisa saja, aku memang kurang kerjaan. Aku bawa karena memang bakal lama di kamar mandi untuk mencuci baju, lha daripada bosen! hehe tapi kayaknya aku memang tetap salah, kurang hati-hati). Allah memberikan pengganti yang jauh lebih baik dari yang sudah tidak ada…Segala puji hanya untuk Engkau…

Menulis sebagai bagian hidupku

Friday, December 29th, 2006

Aku mencoba menulis sejak aku di sekolah dasar, pada waktu itu aku (selain pelajaran sekolah) suka menulis cerita dongeng, ada lebih dari 150 judul cerita yang pernah kuingat dari aku membaca atau mendengar di radio. Waktu aku SMP, aku mulai belajar menulis puisi dan naskah drama, terbentuk karena aku tergabung dalam teater. Pada waktu SMA terus berlanjut, bahkan mulai menulis cerita kontemplatif seperti bentuk Chiken Soup dan Kahlil Gibran (karena inilah bacaanku waktu SMA). Pas kuliah, mulai belajar nulis esei karena bergabung dengan beberapa kelompok studi di kampus. Akhirnya memberanikan diri untuk mengirim tulisan ke media massa dengan dorongan banyak teman.

Kemarin, adalah satu hari yang cukup membahagiakan tulisanku akhirnya dimuat di Kompas Jawa Timur, sebuah media yang dalam persepsiku bakal sulit ditembus. Beberapa orang yang memberi selamat mengungkapkan hal yang senada, menulis adalah sebuah talenta, maka aku harus bersyukur karenanya dengan cara menghayati hal ini sebagai karunia dari Allah dan dengan terus mengembangkan kemampuan itu sebagai bentuk rasa syukur. Ya Allah, hanya kuasa-Mu ini semua bisa terjadi…

Inilah versi asli dari tulisan yang telah dimuat di koran, sepertinya lebih bagus yang tercetak di media massa karena telah telah diedit sedemikian rupa (terimakasih kepada editor Kompas yang telah membuat tulisanku jauh lebih indah ketika dibaca oleh khalayak ramai tanpa mengurangi sedikit pun esensi yang kumaksud). Tetapi versi asli ini mungkin lebih menunjukkan siapa aku, dengan segala kelemahanku…

                                 Proses Belajar Guru

Tulisan ‘Ketika Guru Harus Belajar’ yang dimuat media ini pada tanggal 21 Desember 2006 begitu menarik perhatian penulis. Opini yang ditulis oleh saudara Istamar Syamsuri tersebut menceritakan tentang teknik pembelajaran guru Lesson Study di Jepang yang dikembangkan oleh Manabu Sato. Tulisan ini menjadi salah satu pembahasan dalam sebuah rapat kerja di sekolah kami. Dalam acara tersebut, untuk kesekian kalinya, para guru diingatkan tentang pentingnya belajar. Bahkan kami sangat hafal dengan ikon yang didengungkan di awal masa bekerja, tugas guru itu ada empat : belajar, belajar, belajar, dan baru mengajar. Tulisan ini berusaha menyambung pemikiran beliau dengan menyajikan beberapa pengalaman di sekolah kami tentang proses belajar guru.

Filosof Heraklitus pernah menyatakan bahwa satu-satunya hal yang tidak pernah berubah di dunia ini adalah perubahan itu sendiri. Perubahan dari waktu ke waktu memiliki implikasi dalam dunia pendidikan. Para pendidik harus memahami perubahan jaman ini dan mampu mengembangkan proses pendidikan agar sesuai dengan kondisi sekarang. Berbagai macam materi yang diajarkan dalam kurun waktu 5-10 tahun yang lalu, atau bahkan 3 tahun yang lalu mungkin kurang relevan dengan kondisi sekarang. Pergeseran nilai dan budaya membuat guru memiliki celah komunikasi dengan siswanya karena berada di jaman berbeda, sehingga menjadikan proses pendidikan kurang efektif. Hal-hal tersebut menyebabkan proses belajar guru secara berkelanjutan menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.

Proses pembelajaran guru yang paling awal tentunya dilakukan sebelum terjun mengelola kelas. Bekal yang didapatkan selama kuliah di perguruan tinggi ternyata tidak cukup membuat seseorang siap mengajar dengan baik. Sekolah kami menyediakan program pelatihan bagi guru baru untuk belajar tentang budaya sekolah, konsep mengajar, psikologi remaja, dan juga teknik-teknik pengelolaan kelas. Selama pelatihan, biasanya dilakukan simulasi mengajar beberapa kali dalam kurun waktu 1-3 bulan. Ketika mulai terjuan melakukan proses pembelajaran di kelas, secara berkelanjutan sekolah terus memberikan pembinaan bagi guru baru, seperti supervisi oleh guru yang lebih berpengalaman.

Kegiatan Lesson Study yang diprakarsai oleh Manabu Sato di Jepang pernah dilakukan oleh sekolah kami, meskipun tidak sama persis. Sekolah merancang sebuah program bernama Validasi Teman Sejawat, yaitu pengamatan proses belajar mengajarseorang guru oleh guru lain dalam satu rumpun, dimana keseluruhan guru dibagi dalam 3 jenis rumpun mata pelajaran : IPA, IPS, dan Bahasa. Pengamatan ini dipandu oleh sebuah format observasi kuantitatif yang telah ditetapkan aspek-aspeknya seperti materi pengajaran, teknik pengelolaan kelas, dan media pembelajaran. Kondisi proses belajar siswa atau respon siswa selama proses pembelajaran dicatat dalam uraian kualitatif. Guru maupun pihak pengelola kurikulum merasakan manfaat besar kegiatan ini karena begitu banyak evaluasi serta masukan sehingga guru bisa memperbaiki banyak hal dalam cara mengajarnya.

Kegiatan di atas ditunjang oleh program bernama Koordinasi Rumpun. Setiap satu pekan sekali, masing-masing kelompok guru melakukan diskusi tentang proses pembelajaran kelas mereka. Biasanya mereka akan menyampaikan masalah-masalah selama proses pembelajaran dalam sepekan dan berdiskusi tentang solusi-solusi dari rekan lainnya yang mungkin bisa membantu. Selanjutnya mereka akan mendiskusikan tentang rencana pembelajaran sepekan ke depan, beberapa malah melakukan simulasi di depan rekan-rekan guru untuk mendapatkan masukan. Secara umum, dengan kegiatan seperti ini masalah-masalah pembelajaran bisa dipetakan dengan lebih jelas sehingga mermuskan solusinya tidak begitu rumit.

Seperti yang telah dilakukan oleh banyak guru di berbagai macam daerah, sekolah kami turut berpartisipasi dalam forum MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Kegiatan ini tentunya sangat bermanfaat bagi proses belajar guru karena perwakilan guru dari seluruh sekolah dalam satu kotamadya atau kabupaten berkumpul untuk melakukan sharing pengalaman mereka. Bagi guru yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan, forum ini merupakan ajang untuk menyalurkan pengalaman mereka sekaligus mendapatkan wawasan baru dari guru muda. Lebih jauh, forum ini bisa melahirkan pemikiran-pemkiran kritis tentang kebijakan pendidikan yang lebih luas seperti ketetapan-ketetapan pemerintah dan dewan perwakilan rakyat tentang masalah pendidikan.

Lingkungan masyarakat yang berkembang dengan sangat cepat mengkondisikan guru untuk terus meng-update pengetahuan atau informasi yang mereka miliki. Sekolah punya cara khusus untuk mendorong motivasi guru untuk melakukan hal ini. Perpustakaan yang selalu menambah koleksinya setiap bulan menyediakan Sistem Reward bagi pengunjung dan peminjam koleksi pustaka. Perpustakaan memberikan hadiah berupa buku bagi guru dan siswa yang melakukan peminjaman terbanyak setiap bulan. Penulis sendiri merasakan betapa berharganya hadiah buku dari perpustakaan itu sehingga mamacu untuk terus mengunjungi, meminjam, dan membaca koleksi pustaka. Sistem Reward secara alamih memang cukup bisa mendongkrak motivasi seseorang. Metode lain yang mengkondisikan guru menambah pengetahuannya adalah kegiatan Bedah Buku bulanan, dimana secara bergiliran para guru harus mempresentasikan sebuah buku yan telah dibacanya di depan semua rekan guru. Jika seorang guru sudah dekat waktu giliran untuk melakukan presentasi, maka dengan bersemangat ia akan mencari buku terbaik untuk dipresentasikan. Ini adalah sebuah motivasi alamiah dimana tidak ada seseorang yang ingin merasa malu di hadapan rekan sebayanya.

Proses belajar guru yang seringkali terlupakan adalah pembelajaran dari anak didik kita sendiri. Sesungguhnya, para guru dapat belajar banyak hal dari keseharian anak didik melalui sikap, perkataan, maupun perbuatan mereka. Sekolah memfasilitasi ini dengan mencanangkan program konseling rutin bagi anak didik yang dilakukan oleh konselor. Konselor akan menggali data tentang proses pembelajaran di kelas dengan menanyakan komentar anak tentang proses pembelajaran mereka. Kemudian konselor akan menyampaikan rekomendasi bagi guru yang bersangkutan sesuai dengan hasil diskusi dengan anak didik. Jika guru dapat menyempatkan diri untuk berdiskusi dengan anak didiknya secara langsung, mereka dapat menanyakan tentang bagaimana perasaan dan penerimaan mereka selama proses belajar mengajar itu. Dari ungkapan anak didik, tentunya kita akan belajar banyak hal untuk memperbaiki diri. Proses pengamatan sikap dan perilaku anak didik juga kan sangat membantu proses belajar guru. Setiap detil perubahan sikap dan perilaku anak akan mendatangkan inspirasi bagi guru untuk meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan materi maupun menangani anak.

Beberapa program yang penulis sampaikan dapat berjalan secara kontinu, ada yang terhenti karena alasan klise yaitu kesibukan, meskipun mungkin ini hanyalah masalah manajemen waktu dan skala prioritas, ada juga yang masih dirintis dan baru saja dimulai. Penulis merasakan bahwa berbagai macam program yang dirancang oleh sekolah dapat terlaksana dengan baik jika dilakukan secara istiqomah atau berkelanjutan. Program ini akan tercapai tujuannya jika semua guru memiliki motivasi yang kuat dalam beraktualisasi diri. Guru yang mengikuti proses belajar yang dirancang sekolah hanya karena alasan profesi atau bekerja akan mempersepsikan program diatas sebagai kewajiban, kemudian merasa berat menjalani setiap proses pembelajaran karena belum tumbuhnya motivasi internal. Namun guru yang memiliki motivasi untuk terus mengembanghkan diri akan mempersepsikan program ini sebagai kebutuhan pribadinya dan kemudian menikmati seluruh proses belajar yang ada di dalamnya.

Overload Working

Thursday, December 21st, 2006

Sejak kemarin, ada ’serangan’ dari beberapa siswaku, yaitu  pertanyaan yang cukup sederhana tetapi menyentuh : Kok, ustadah nggak senyum? Itu pertanyaan inti, ada yang menambahkan : lagi capek ya? banyak pekerjaan ya? sibuk banget…dan semacamnya. Pada dasarnya, aku tahu itu adalah bentuk perhatian dari mereka (senengnya dapet perhatian). Tetapi lebih dalam, ada yang lain…setiap hari, aku selalu berusaha untuk tersenyum (kecuali jika situasinya serius, nanti dikira tidak menghargai), maka jika ada yang menegurku seperti ini, pasti ada sesuatu yang salah denganku. Sebenernya yang salah ini terjadi tidak hanya padaku. Satu sekolah ini lagi overload working. Para siswa sedang menyiapkan diri untuk UAS, tentunya guru jauh lebih sibuk. Tanda-tanda overload : semua guru pada pulang malam, di kantor pada tekun dengan kertas2 di meja, atau di depan komputer masing2, berjalan dengan sangat cepat dari satu ruang ke ruang lain, sedikit berbincang, berbicara kalau ada perlu, jarang yang ngerumpi bahkan di waktu istirahat, muka cemberut tanpa senyum, mulai ada yang flu, batuk, sakit kepala atau sakit perut, berbicara dengan nada tinggi pas lagi emosi, atau kertas yang dibanting di atas meja hehe lucu ya (semua gejala ini sangat mirip, plek dengan kajian skripsiku tentang stres, teori emang ada benarnya). Begitulah kejadiannya akhir2 ini. Bukan hanya UAS yang bikin sibuk, yang namanya UAS di alhikmah, pasti ada pasca UAS yang merupakan rentang waktu untuk bekegiatan non-akademis. Kali ini ada kegiatan yang namanya Seminar Kesehatan reproduksi ngundang dokter n psikolog, diskusi tentang etika ngundang siapa blm jelas, pelatihan P3K dari BSMR-palang merah yang Islami, bedah film remaja, life skill ke Lamongan, filed trip ke Unair-ITS. Semua kegiatan ini pastinya butuh persiapan yang cukup rumit mengingat begitu banyak pihak yang dilibatkan. Belum lagi, Depdiknas yang menetapkan kurikulum baru tahun ajaran depan dengan label "KTSP"-Kurikulum Tingka Satuan Pendidikan, yang katanya secara esensi tidak jauh berbeda dengan KBK (kurikulum berbasis kompetensi, atau kurikulum bingung kabeh!) tetapi secara administrasi harus dipersiapkan, dan betapa ribetnya karena waktu yang disiapkan sangat sempit. Pada hari yang telah ditetapkan liburan untuk Natal, kami harus bekerja keras selama tiga hari mulai besok untuk ‘workshop’ dalam rangka persiapan administrasi itu. Kadangkala deadline memang penting, tapi untuk saat ini rasanya aku malah kurang bisa fokus. Jangan dikira seorang konselor pun tidak memiliki masalah sama sekali dengan kesehariannya. Aku hanya ingin ‘break’ sebentar saja beberapa menit, menuliskan sesuatu sambil mendengarkan beberapa lagu instrumental, kemudian setelah ini aku berangkat menuju Ruang Rapat, friday for weekly meeting. Ya Allah banyak hal yang diamanahkan padaku, berikan aku kekuatan untuk fokus dan konsentrasi…

Teacher often pays over time

Wednesday, December 13th, 2006

Pendidikan adalah sebuah investasi, maka dari itu kerja keras dalam sebuah proses pendidikan baru akan dapat dipetik hasilnya jauh setelah itu. Oleh karena itu, para pendidik mesti memiliki kesabaran untuk dapat melihat hasil kerja keras mereka, jauh setelah mereka mengerjakan, yaitu ketika melihat perubahan pada anak didik mereka, terutama perubahan sikap dan perilaku bukan sekedar penambahan pengetahuan. Sungguh, ketika jauh setelah melakukan kerja keras dalam proses pendidikan, para pendidik akan mendapatkan kebahagiaan dan mengalami kenikmatan yang luar biasa hanya dengan mendapati anak didiknya berubah sikap dan perilakunya, tentunya perubahan menjadi lebih baik.

Berikut ini beberapa catatan kebahagiaan yang kudapati akhir-akhir ini. Selama hampir 2 tahun menjadi seorang konselor sekolah, aku merasa menemukan perubahan-perubahan luar biasa pada anak-anak didikku. Sungguh, melihat perubahan-perubahan itu rasanya terharu, kadang aku sampai menitikkan air mata karena itu. Meskipun aku tahu bukan aku yang mengantarkan mereka untuk berubah, tetapi seluruh guru, semua komponen sekolah, sistem pendidikan yang sudah dirancang, kerja keras orangtua mereka di rumah, juga lingkungan yang ada di sekitar mereka, dan yang paling utama, hidayah dari Allah agar mereka berubah.

Catatan pertama, ada seorang siswa yang dulu begitu pemalu, sedikit sekali bicaranya dan sangat enggan untuk tampil di depan umum. Berawal dari kepercayaan teman-temannya yang selalu menjadi dia pemimpin maka dia sekarang menjadi seorang yang begitu pemberani. Sekarang aku bisa melihatnya bisa berbicara dengan siapa saja dengan sangat luwes meskipun gaya pemalunya masih ada. Bahkan pernah juga dia menjadi pembawa cara untuk acara seminar yang menghadirkan orang luar. Luar biasa perkembangannya. Melihat perkembangan ini, tentunya aku sangat berbahagia.

Catatan kedua, sebuah masalah yang mirip dengan sebelumnya. Ada seorang anak yang kuamati memiliki masalah sosialisasi. Dia begitu pendiam, jarang berkumpul bersama temannya, dan suka menyendiri serta melakukan segala sesuatu sendiri. Kalau tidak salah, dulunya dia memang merasa tidak cocok dengan karakter teman-teman yang ada di sekitarnya. Lambat laun, dia mulai menemukan hobbynya dan bisa menikmati kehidupan di sekolah ini. Dalam beberapa kesempatan, teman-temannya memberikan kesempatan buat dia untuk tampil. Dan sekali dua kali pengalaman, dia makin sering dipercaya menjadi pemimpin dalam beberapa event kegiatan sekolah. Dan luar biasa, saya bangga karena dia menunjukkan bahwa dia punya perilaku sosial, khususnya kepemimpinan yang bagus.

Catatan  ketiga, ada seorang siswa yang dulu pernah memiliki masalah kemandirian. Mungkin karena belum terbiasa mandiri, ia kurang bisa beradaptasi dengan sistem sekolah full-day maka dia memiliki masalah manajemen waktu. Yang paling aku ingat ada sebuah kejadian lucu ketika ada masa dia tidak dapat mengingat jadwal pelajaran dan setiap malam sms gurunya untuk bertanya. Bahkan sempat ada ide untuk membuatkan jadwal pelajaran sebesar poster kemudian di-pigura dan ditempel di kamarnya agar dia tidak kehilangan jadwal. Nah, beberapa hari yang lalu dia datang ke ruanganku untuk minta ijin keluar sekolah guna mengurus KTP, dia akan pergi naik motor SENDIRIAN. Dia berkata : Ustadah, saya akan pergi ke kantor kelurahan, kalau tidak macet dan tidak antri kira-kira satu jam sudah kembali ke sekolah. Wow, dia bisa menghitung dengan cermat manajemen waktunya. Mengingat kejadian yang lalu, sungguh merasa ini adalah sebuah lompatan luar biasa. Pada saat aku menandatangi surat ijin keluar itu, tanganku sampai gemetar karena masih takjub. Momen seperti inilah kurasakan sebuah kebahagiaan sebagai pendidik.

Catatan keempat, suatu kali dalam sesi konseling seorang siswa menyatakan bahwa dia sangat tidak suka diingatkan untuk sholat. Dia mengatakan bahwa dia sudah baligh dan semua dosa serta pahala adalah tanggungannya sendiri. Dia merasa jika diingatkan akan membuatkan semakin tertekan. Pada waktu aku mengamati dia memang bermasalah dengan motivasi sholat, seperti yang tampak dalam keseharian berjalan malas-malasan atau datang terlambat ke masjid. Akhir-akhir ini aku begitu takjub melihat dia selalu datang paling awal di masjid, seringkali kudapati ia telah duduk manis di shaf pertama ketika aku sendiri baru tiba di masjid. Dan aku benar-benar melihat rona wajah ikhlas dan senyuman manis ketika dia melakukan itu. Sungguh aku ingin memeluknya untuk mengatakan bahwa aku bangga terhadap perubahannya.

Catatan kelima, satu setengah tahun yang lalu ada seorang anak yang dipaksa orangtuanya masuk ke sekolah ini. Hasil tes seleksi menunjukkan bahwa dia lolos, meskipun ada catatan bahwa bacaan Quran-nya kurang yang mungkin baru setingkat anak SD dengan standar yang biasa diterapkan sekolah ini. Padahal dia akan menghadapi kurikulum pembelajaran Quran yang berat. Sekolah sudah merancangkan program khusus agar dia dapat dengan cepat mengejar ketertinggalan. Dalam prosesnya, aku mengamati bahwa dia memang memiliki motivasi luar biasa dalam belajar membaca Al-Quran yang membuatkan cepat sekali dalam belajar. Beberapa hari terakhir aku membuktikan sendiri ketika dia menjadi imam shalat Maghrib dengan beberapa guru putri yang pulang larut malam karena lembur. Sekarang ini bacaan Quran bagus sekali, fasih, dan bahkan dia telah menghafal beberapa ayat pilihan di luar surat-surat dalam juz 30 yang biasa dihafal oleh anak-anak. Maha Suci Allah yang telah membuat segalanya ini bisa terjadi.

Sebagai penutup tulisan : Jangan berhenti untuk bekerja keras, suatu saat kita akan memetik hasilnya. Untuk menghormati penulis asal kalimat ini. Inilah sebuah gambar yang aku download dari internet, sebuah poster motivasi yang kata-katanya sedikit kurubah menjadi judul tulisan ini.

Kecerdasan Finansial

Monday, December 4th, 2006

Mengelola keuangan memang tidak mudah, aku telah mencoba berkali-kali untuk mengikuti saran membuat rencana anggaran dan mencatat pemasukan dan pengeluaran, belum pernah berhasil. Sekali aku mencoba, pada akhirnya terhenti tidak berapa lama kemudian. Aku mungkin memang tidak berbakat dalam hal administrasi. Sejak rekan satu timku dikantor libur karena cuti melahirkan, beberapa tugas administrasi pekerjaan juga menjadi tidak rapi. Ustadah Myrna, aku merindukanmu karena ketekunanmu mengelola data-data Bimbingan dan Konseling. Apa selamanya kelemahan admisnistratif ini akan menghambat kecerdasan finansialku?

Seorang rekan bernama Adhie meminjamkan sebuah buku tentang kecerdasan finansial, kebetulan penulisnya (Iman Supriyono) pernah diundang di tempat aku bekerja untuk berbicara hal yang sama. Dalam buku itu dipaparkan dengan cukup rinci bagaimana tips mengelola keuangan kita. Sejak itu, aku kembali bersemangat untuk menata lagi pengelolaan finansialku. Sewaktu liburan kemarin aku membeli sebuah buku agenda khusus untuk mencatat urusan finansial. Untuk menambah semangat, aku menuliskan beberapa kalimat motivasi di buku itu. Salah satunya :

"Dan perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebuh yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buah-buahan dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka embun (pun memadai). Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (Al- Baqarah : 265)

Sungguh inspiratif…