Sebuah Pekan yang Berat
Wednesday, March 28th, 2007Benarlah kata-kata bahwa hidup ini seperti roda, ada kalanya bagian roda berposisi di bawah, di atas dan di samping. Kehidupan ini ada kalanya susah, ada jga saatnya senang. Sayangnya, seringkali kita mengingat filosofi pas dapet susahnya, pas dapat senengnya lebih cenderung terlena…
Sepekan ke balakang kemarin, adikku semata wayang sakit sampai harus opname di rumah sakit karena terserang demam berdarah, yang katanya kalau tidak ditangani segera bisa mengancam keselamatan. Tentunya semua anggota keluarga jadi kaget, lha biasanya sehat dan segar bugar serta jarang sakit kok tiba-tiba bisa kena penyakit serius. Kabarnya Surabaya memang jadi tempat yang rawan penyakit ini. Akhirnya, ibuku langsung ambil cuti kerja berhari-hari untuk nungguin di rumah sakit, bapakku meninggalkan pekerjaannya di jakarta dan pulang ke malang, aku sendiri bolak-balik surabaya malang beberapa kali. Sebenarnya aku pengen sekali tidak masuk kerja, tapi kok ya pas aku dijadwal tugas luar untuk rapat kerja khusus pembahasan KTSP. Maka jadinya, aku pulang ke malang menjelang maghrib nyampenya malam dan kembali lagi ke surabaya menjelang subuh. Kalau peristiwa ini menguras fisik memang iya, tetapi bukan maslah besar buatku.. Alhamdulillah, staminaku cukup kuat …Tapi menguras perasaan itu yang berat, bagaimanapun…aku was-was juga. Pas masuk RS pertama kali, trombositnya 128ribu (normalnya 150ribu) kan nggak begitu parah, hari kedua malah turun jadi 76rb, trus hari ketiga 66rb, hari berikutnya 30rb. Bagaimana tidak khawatir! Meskipun banyak sekali orang bilang kalau memang siklusnya seperti itu. Baru setelah itu, hari berikutnya naik 36rb, lalu 80rb…dan akhirnya kemarin sudah keluar dari rumah sakit.. Segala puji bagi Allah…
Sesuatu yang cukup menyesakkan dada datang juga karena kejadian di sekolah. Kelemahanku yang terlalu dalam memikirkan sesuatu menimbulkan masalah tersendiri. Ada kebijakan ‘menghukum’ siswa sebagai bentuk pembinaan untuk siswa. Sebetulnya untuk bersikap tegas dalam menindak dan memberikan konsekuensi kepada siswa atas kesalahan-kesalahan mereka agar menjadi momen untuk instrospeksi untuk kemudian berubah tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ustadah Ani punya tampang yang cukup ‘menyeramkan’ lho…Padahal kalau dibelakang, sebelum pemberian ‘hukuman’ ada diskusi dan perdebatan yang panjang. Salah satu perdebatan yang membuat aku ‘terpojok’ terjadi beberapa waktu yang lalu. Berawal dari ‘pembelaan’ku bahwa dalam perspektif psikologis, segala perilaku itu ada sebabnya dimana kadangkala perilaku anak-anak yang disebut ‘nakal’ dan ‘pelanggaran’ tidak selalu disebabkan sesuatu dari dalm diri mereka tetapi seringkali disebabkan pengaruh-pengaruh dari luar. Jadi hukuman pada anak tidak selalu menyelesaikan masalah. Kadangkala juga ketika hukuman itu berlebihan malah akan merusak proses pendidikan. Misalnya, seorang anak ada di level 1 ketika pertama kali kita tangani, sedangkan standar kita anak harus di level 10. Dengan proses pendidikan yang kita lakukan ternyata si anak sudah ada di level 5 sehingga dalam kacamata standar, anak itu sama sekali belum berubah (ke arah 10). Jikalau kita berikan hukuman berat yang malah melempar dia kembali ke level 1, bukankah akan membuat usaha kita membawa dia dari level 1 ke 5 menjadi sia-sia. Pada awalnya aku dibiarkan untuk memaparkan argumenku, setelah selesai baru kemudian aku dijelaskan satusisi yang memeang di luar perhitunganku. Masalahnya sebagian besar anak-anak sudah di level 7,8,9 kalau kemudian ada yang masih level5 dibiarkan berkeliaran maka akan membawa yang lain turun ke level 5. apa malah tidak berbahaya. Lalu ada hentakan juga tentang keteguhanku dalam menilai sesuatu, katanya jangan terlalu lunak, jangan terlalu terlena, karena ini masalah akidah dan masalah akhlak…
Sepulang dari perbincangan itu, aku begitu merasa galau dan mempertanyakan diriku sendiri. Kupikir aku perlu ‘pelarian’ dan untungnya di sekitar aku tinggal tidak ada tempat pelarian. Dulu ketika masih kuliah, kalau bete aku bisa langsung melesat ke balai pemuda atau mall dengan mudahnya, kecuali pas nekat samapi jalan-jalan ke jogja sendirian. Kemarin pas butuh pelarian kok larinya ke mesjid al akbar. Awalnya pengen shalat maghrib dan doa saja, ternyata ada kajian hadits oleh Mohammad Sholeh Drehem, akhirnya ikut dan kebetulan temanya pas sekali..keteguhan akidah. Beliau menggunakan metode story telling untuk menguraikan tentang perjuangan Khudaifah dalem mempertahankan ke-Islam-nya ketika ditangkap oleh Kaisar Romawi Heraklius. Penuturannya begitu indah sampai aku terharu dan sadar mungkin aku belum seteguh itu..Dari kejadian ternyata aku malah tertarik untuk datang tiap hari Rabu malam, karena waktunya pas tiap aku pulang dari tempat senam.
Alhamdulillah, pekan yang cukup berat ini dapat terlalui juga…(bagaimana tidak, waktu kan berjalan maju terus tanpa memperdulikan apa yang kau rasakan). Semoga Allah menjagaku terus di waktu-waktu yang akan datang, Amin…