Ketika Cinta Bertasbih
Sunday, April 8th, 2007“Aku sangat mencintaimu, tapi aku tidak mau kehilangan cinta-Nya. Aku mendamba hidup bersamamu, tapi aku lebih mendamba hidup bersama ridha-Nya”. Inilah serangkaian kalimat yang aku petik dari novel karya Habiburrahman El Shirazy yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih bagian 1. Kalimat yang begitu menyesakkan dada sebab mengingatkan diriku pada masa lalu namun sungguh menjadi inspirasi untuk melangkah ke masa depan. Kalimat hampir serupa pernah tertoreh di agenda harianku kurang lebih satu tahun yang lalu, “Ya Allah, aku memang takut kehilangan dia, tapi aku lebih takut kehilangan ridha-Mu…Ya Allah kumohon berilah aku petunjuk-Mu”. Kalimat ini kutuliskan setelah selesai membaca novel Ayat-ayat Cinta dengan penulis yang sama.
Membaca buku hampir selalu meninggalkan kesan, terutama buku-buku yang memang berkualitas. Proses ketika membaca bisa merangsang proses berpikir serta melibatkan emosi. Khusus untuk buku Ketika Cinta Bertasbih yang barusan kubeli, langsung tanpa menunda begitu lama telah selesai kubaca dalam 7 jam saja dengan penuh rasa haru dan takjub, serta diselingi senyuman, gelak tawa, dan uraian air mata. Makna yang terkandung terasa begitu dalam, dan untuk itulah aku tuliskan di sini.
Kesan pertama, mungkin karena aku yang begitu melankolis, novel ini menyajikan kisah cinta yang begitu romantis. Sisi diri manusia yang memiliki fitrah rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama tersaji dalam tiap bagian cerita. Ada kisah seorang kakak yang begitu mencintai adik-adiknya, ada cinta seorang pemuda pada seorang gadis yang terpendam, ada kisah dua orang sejoli yang saling mencintai namun tak pernah tersambungkan. Cinta didefinisikan sebagai seuatu perasaan yang sangat indah, namun kadangkala dapat menjerumuskan ketika nafsu mulai mendominasi.
Kesan kedua, novel ini menyajikan sisi religiusitas Islam yang kental. Serangkaian kejadian dalam novel itu seringkali dimaknai dengan menggunakan ayat-ayat Al Quran, hadist, shirah nabawiyah, atau sejarah tokoh-tokoh Islam. Berbagai macam peristiwa dalam novel dirangkai dengan ulasan tentang kebesaran Allah. Seperti yang disampaikan Prof. Laode M Kamaluddin dalam pengantar bahwa tokoh-tokoh yang dalam novel ini seolah-olah adalah orang memiliki perilaku ‘suci’. Di tengah-tengah jaman ‘edan’ yang sedang kita jalani, dimana keburukan telah menjadi sesuatu yang tidak aneh (misalnya; pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kemaksiatan adalah sesuatu yang biasa kita dapati di berbagai media massa, menjadi santapan informasi harian kita), penulis buku ini menghadirkan tokoh-tokoh yang perilakunya dekat dengan nabi atau orang suci. Perilaku seperti istiqomah, sabar, ikhlas, tawadhu, kepasrahan kepada Allah menghiasi akhlak orang-orang yang menjadi tokoh novel ini. Keberadaan tokoh-tokoh imajiner (atau nyata ya? hanya penulisnya yang tahu) begitu mengagumkan sehingga bisa menyentuh hati, menimbulkan inspirasi dan bahkan mungkin memotivasi kita untuk berusaha memperbaiki diri.
Kesan ketiga, novel ini menyoroti dunia kewirausahaan dengan segala sisinya, berbeda dengan novel Ayat-ayat Cinta yang banyak menyoroti dunia keilmuan. Penulis menggambarkan dengan sangat detil bagaimana kehidupan seorang wirausahawan, mulai dari kerja kerasnya, suka dukanya, tips suksesnya, dan juga rintangan-rintangannya. Ketika mengamati tokoh Azzam dalam novel ini, aku jadi ingat salah seorang temanku yang juga sedang giat mengelola wirausaha, namanya Dimas Rahmat Pamungkas. Ketika teman-teman seprofesi (anak-anak psikologi maksudnya) berlomba-lomba mencari pekerjaan bagus di perusahaan-perusahaan bonafit, dia memilih menempuh jalur wirausaha dengan berbagai lika-likunya. (Bre, kalau kamu baca novel ini, insya Allah semakin termotivasi untuk berwirausaha dan juga bersemangat mencari ‘pengisi hatimu’). Bukankah memang dunia wirausaha adalah area yang sangat menjanjikan saat ini, tentunya dengan taktik dan strategi yang jitu bukan dengan modal dengkul dan ecek-ecek. Tahu nggak, SPP di SMA Al Hikmah yang katanya sangat mahal itu ternyata mampu dibayar oleh orang-orang yang berprofesi (lebih dari 50% jumlah walimurid) sebagai pengusaha atau wirausaha atau wiraswasta…
Menurutku (yang lain boleh beda lho), tidak banyak buku-buku menakjubkan yang ditulis oleh sastrawan Indonesia. Buku ini aku kategorikan sebagai salah satu dari sedikit yang bisa menakjubkan. Aku sangat merekomendasikan buku ini bagi siapa saja yang belum membaca. Mengutip (semacam) prolog dalam buku ini : Membaca karya Kang Abik (penggilan akrab penulis) adalah membaca ketulusan dan cinta ‘yang apa adanya’…kala merajut kata demi kata, maka apapun yang ditulisnya, sebiasa apapun tulisan itu, menjadi indah, menarik, berbobot, menyentuh hati, memotivasi, hidup, sampai ke hati pembacanya. Sungguh, inilah sebuah buku dan penulis yang dalam definisiku sukses melakukan dakwah dengan pena. Penulis dengan karya seperti inilah yang bisa membawa inspirasi bagi umat Islam untuk menuju kebaikan. Semoga rahmat Allah tercurah kepada penulis buku ini agar bisa terus berkarya bagi umat. Semoga lahir pula penulis-penulis lain yang memiliki semangat yang sama.. Amin…