Nasionalisme Insidentil
Thursday, August 16th, 2007Tulisan ini dibuat atas sedikit diskusi dengan seorang rekan guru, yang kebetulan mengajar Pendidikan Kewarganegaraan, dan kebetulan juga mendapat amanah untuk mengkoordinir Peringatan HUT RI ke-62. Semoga ada hikmah untuk kita semua…
Pagi ini aku mengikuti upacara 17 Agustus di sekolah. Sebuah ritual yang mengingatkan bahwa bangsa ini sudah merdeka selama 62 tahun. Dan aku merasa terharu melihat semangat para siswaku dalam mempersiapkan upacara hari ini. Di sekolah-sekolah lain mungkin sudah biasa, tapi baru akhir-akhir ini sekolah kami menyelenggarakan format upacara bendera yang lengkap. Aku melihat ketegapan langkah 12 orang pasukan pengibar bendera, aku menyaksikan tim paduan suara yang bernyanyi dengan lantang, aku mendengar lantunan pembacaan UUD 45 dan Naskah Proklamasi yang begitu tegas…bener merinding. Belum lagi amanat pembina upacara yang melengkapi perenungan tentang arti kemerdekaan. Yah…kita mesti mengobarkan semangat cinta tanah air agar mendorong bangsa ini segera bangkit. Negara-negara lain yang hampir bersamaan memperoleh kemerdekaan seperti India, Malaysia, Vietnam sudah menjadi negara-negara yang punya nama sementara bangsa kita masih disibukkan dengan masalah. Dengan semangat cinta tanah air ini, harusnya kita segera bangkit..mengejar ketertinggalan kita…
Seperti juga ditempat-tempat lain, beberapa hari sebelum ini seluruh komponen mesyarakat mempersiapkan perayaan kemerdekan. Area tempat tinggalku sendiri dihias dengan sangat mewah dengah dana yang tentunya tidak sedikit. Sejak dua minggu lalu, event-event lomba-lomba khas 17 Agustus-an mulai diadakan di kampung-kampung, di sekolah-sekolah, di kantor-kantor. Secara hampir merata rasanya aku melihat semangat nasionalisme di mana-mana. Dalam momen Perngatan HUT RI ini rasanya semua orang Indonesia bisa menunjukkan bahwa mereka cinta pada Indonesia dan bangga menjadi warga Indonesia. Namun sampai kapankah nuansa ini seperti akan bertahan? 2 minggu, 1 atau 2 bulan….
Ketika menilik kembali permasalahan bangsa yang masih kita hadapi, aku masih mempertanyakan dimanakah kontribusi semangat cinta tanah air itu untuk sedikit mendorong adanya jalan keluar bagi masalah-masalah tersebut. Dimana rasa cinta cinta air itu ketika korupsi masih meraja lela, bukan hanya dikantor-kantor pemerintah (dengan cara memanipulasi proyek dana untuk rakyat), tapi juga di pengadilan (prosesi susp menyuap untuk memenangkan kasus), sekolah (dengan korupsi waktu para guru atau korupsi nilai para siswa), dan juga di kalangan swasta (dengan sogok mengogok untuk mendapatkan tender), terjadi dibawah meja dan juga di atas meja, tidak hanya oleh orang-orang ‘gedongan’ tapi juga oleh orang-orang ‘kecil’ seperti tukang jual buah (yang memodifikasi timbangannya) atau tukang tambal ban (yang menyebar paku di jalanan). Dimana rasa cinta tanah air itu ketika semangat untuk mempersiapkan masa depan generasi penerus belum tampak hasilnya, terbukti dengan rendahnya kualitas SDM Indonesi (inget indeks SDM Indonesia?), juga carut marutnya pendidikan Indonesia. Aku jadi teringat seduah pendapat dari rekan guru yang lain : sulit bicara nasionalisme atau cinta tanah air dengan orang-orang yang masih memikirkan urusan perut saja.
Apakah semangat nasionalisme itu memang hanya perlu muncul ketika kita memperingati 17 Agustus-an, insidentil saja? Tidak bukan… Seandainya semangat nasionalisme itu tidak hanya membara semasa perayaan 17 Agustus-an tetapi menjadi sebuah semangat yang berkobar sepanjang tahun dan menjadi ruh untuk berjuang membawa negeri ini menjadi lebih baik. Seandainya semangat nasionalisme itu menjadi sesuatu yang timbul dalam keseharian kita, ketika kita belajar, menutut ilmu atau ketika bekerja. Maka mungkin semangat kita untuk memperbaiki bangsa Indonesia akan lebih kuat.
Apakah rasa cinta tanah air hanya cukup diungkapkan dengan memeriahkan hari lahirnya? Dengan analogi yang sama apakah jika kita mencintai seseorang, orangtua, anak, pasangan, atau sahabat, cukupkah mengungkapkan dengan uacapan selamat dan menyelenggarakan perayaan ultahnya setiap satu tahun sekali. Cinta tidak cukup dengan itu, tapi perlu ditunjukkan dengan sikap dan komitmen serta dibuktikan perbuatan-perbuatan. Jika kita mencintai tanah air kita, mari kita tunjukkan dengan sikap dan komitmen untuk membawa perubahan bagi bangsa agar menjadi lebih baik, mari kita tunjukkan dengan perbuatan-perbuatan…dengan usaha kita memperbaiki diri sendiri dan setidaknya mengajak orang-orang di sekitar kita untuk bersama-sama membangun bangsa dengan caranya masing-masing. Yang masih pelajar, mari kita motivasi untuk menuntut ilmu demi masa depannya, mari kita ajari berperilaku baik, jujur, dan berkarakter agar bisa jadi pemimpin di masa depan. Yang bekerja, mari kita bekerja dengan baik, semangat, jujur, dengan bidangnya masing-masing berusaha menjadi yang terbaik agar bisa bermanfaat bagi sesama..
Di balik semua itu, mari kita hayati bahwa segala bentuk rasa cinta pada tanah air ini kita niatkan sebagai bentuk syukur kita kepada Allah, yang atas karunia dan rahmat-Nya mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemedekaan (persis seperti bunyi Pembukaan UUD 1945). Mari kita syukuri dengan mengucap segala puji bagi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dengan komitmen diri kita untuk mengsisi kemerdekaan, dan usaha-usaha kita untuk turut berpartisipasi menjadi bagian dari bangsa yang menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.