Archive for November, 2007

ATARAXIS

Monday, November 26th, 2007

Kosakata ini aku temukan di harian Kompas, pada sebuah artikel tentang tokoh ahli kesehatan jiwa (lupa namanya?!). Ataraxis diambil dari bahasa Yunani yang berarti “ketentraman jiwa”. Kata ini dijadikan nama sebuah jurnal tentang ilmu kesehatan jiwa yang diprakarsai oleh tokoh tersebut. Aku selalu tertarik dengan kosakata-kosakata baru…Sepanjang usiaku yang 25 tahun ini, baru kali ini aku tahu ada kata “ATARAXIS”…dan mungkin masih banyak kata yang aku tidak tahu, dan oleh karena itu aku akan terus mencari untuk belajar…karena aku adalah manusia pembelajar…

Menilik pada makna kata ataraxis, akhirnya ingatanku kembali pada masa-masa kuliah ketika kali pertama aku berkenalan dengan filsafat. Terimakasih tak terhingga kepada Bapak Listiyono Santoso, dosen filsafatku, orang Fakultas Sastra yang mengajar di Psikologi (yang semua orang bilang, beliau orang yang mbulet, tidak jelas, pelit nilainya tapi aku jadi merasa paling nyambung ngomong sama beliau, dan dengan baiknya memberi nilai A untuk semua kuliah filsafat yang total berjumlah 6 SKS, setelah aku berusaha dengan keras menunjukkan bahwa aku memang layak mendapatkan A karena aku belajar dengan sungguh-sungguh).

Ketika belajar tentang filsafat, maka pertanyaan yang sering menjadi awal mula kajian adalah siapa aku dan mau kemana? Pertanyaan tentang siapa aku adalah sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, panjang ceritanya kalau diteruskan. Manusia adalah Homo Viator, sosok yang selalu berusaha mencari jati dirinya. Pertanyaan kedua mungkin lebih mudah dikaji karena terkait sesuatu yang bisa kita rencanakan, usahakan, dan akan kita raih.

Kita mau kemana? Ataraxis bisa menjadi salah satu jawaban untuk pertanyaan ini. Ketentraman jiwa adalah sesuatu yang didambakan sebagian besar orang (kalau tidak boleh bilang semuanya). Semua orang ingin mendapatkannya. Teringat juga, beberapa waktu yang lalu aku memutarkan sebuah film untuk siswa-siswaku : Pursuit of Happiness (Mengejar Kebahagiaan). Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan akan berusaha mengejar untuk meraihya. Masalahnya, ketentraman jiwa ataupun kebahagiaan bagi satu orang bisa jadi berbeda dengan orang yang lain. Ada yang berbahagia jika kebutuhannya terpenuhi, ada yang bahagian dengan materi, ada yang bahagia jika dicintai atau mencintai, dan seterusnya.

Lalu jika aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang menjadi sebuah ketentraman jiwa bagiku? Apa yang membuat aku bahagia? Meminjam teori Sosiologi tentang Rules and Roles (Aturan dan Peran), maka ada beberapa sudut pandang. Sebagai anak, aku akan berbahagia jika orangtuaku bahagia (jikalau nanti sebagai orangtua, aku akan bahagia jika anakku bahagia). Sebagai seorang guru tentunya aku berbahagia jika murid-muridku berbahagia. Sebagai anggota masyarakat, aku akan berbahagia jika masyarakat di sekitarku berbahagia.

Satu yang agak sulit didefinisikan adalah sebagai individu, aku akan berbahagia jika apa? Untuk pertanyaan yang satu ini, aku teringat sebuah catatan kecil yang pernah aku buat 2 tahun yang lalu. Judulnya Future Map in Five Years. Disitu kutuliskan hal-hal yang ingin kulakukan pada 5 tahun ke depan. Dari tulisan itu, aku mulai merangkai kesimpulan, inilah mungkin beberapa hal yang akan akan mengantarku pada sebuah ketentraman jiwa atau bisa membuatku bahagia, dan ke situlah aku akan menuju.

For parents, I plan to be economically independent, go home more often, bring them travelling, and renovate our house. For career, I plan to be a proffesional school caunselor, make a book, take master degree, build psychological agency, or be lecturer. For citizen, I plan to join NGO for social work, be a consultant for NGO, build kinderganten or school. For personal, I just write : I plan to marry, build my family, and take care of my children. For the last part of these plan, I believe that I will reach happiness through marriage. Like what Allah promises to us in the Holy Quran : Allah create couple for human so they can feel happy (Ar-Rum : 21). So, let me prepare everything that is needed to go there, soon…

Dari Keterdesakan Menjadi Kemandirian

Monday, November 5th, 2007

Berawal dari sebuah keterdesakan akhirnya menjadi sebuah wadah penggemblengan kemandirian. Keterdesakan itu terjadi kurang lebih 3 bulan yang lalu, ketika aku memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas malam 3 kali seminggu di Masjid Al Akbar Surabaya. Setiap kali pulang menjelang jam 10 malam, hamper selalu dihantui rasa was-was. Pilihan untuk menyewa bejak menuju kosku yang tidak lebih dari 4 kilimeter tetep menyisakan rasa khawatir semenjak tukang becak yang aku minta dating menjemput pada waktu yang telah disepakati tidak datang. Perasaan merugi berikutnya datang ketika aku menghitung pengeluaran yang membengkak hanya untuk memenuhi biaya transportasi itu. Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk menggunkan sepeda motor, kebetulan ada satu motor tidak dipakai di rumah Malang sebab Bapakku kerja di luar kota.

Permasalahan naik motor buatku bukan sesuatu yang sederhana. Aku punya trauma berat soal naik motor karena dulu pas SMA, pernah mengalami kecelakaan beberapa kali sewaktu belajar dan akhirnya diputuskan oleh ortuku : aku nggak boleh naik motor. Memang sesekali semasa kuliah aku memberanikan diri naik motor, tapi jantung berdebar, rasa gemetar, dan keringat dingin itu selalu menyertai ketika aku mulai mengendarai motor. Beberapa orang, termasuk konsultan pendidikan yang ada di tempat kerjaku pernah mengatakan : Konselor kita ini belum tuntas tugas perkembangan kemandiriannya sampai dia bisa naik motor…Dan ke-tidak-bisa-an-ku naik motor ini selalu jadi olok-olok karena sebenarnya tugas konselor lah untuk menuntaskan tugas perkembangan anak didiknya.

Akhirnya…berawal dari keterdesakan sering pulang malam itu, aku jadi cukup berani untuk keluar dari zona aman trauma naik motor. Syukur pada Allah bahwa motivasiku untuk belajar ilmu-Nya menjadi kekuatan untuk mengalahkan ketakutan dalam diriku. Akhirnya selama dua bulan ikut kajian tersebut aku melakukan perjalanan dengan naik motor.

Pengalaman berkendara motor ternyata menjadi sesuatu yang luar biasa buatku (buat orang lain biasa kali ya…). Yang jelas aku belajar banyak hal, seperti yang konsultanku katakan, tentang kemandirian dan tanggung jawab. Mengendari motor artinya merawat dan memenuhi kebutuhan motor agar berjalan, mulai dari mengisi bensin, mengganti oli, melakukan servis, mencuci motor, dst…Ada sebuah area manajemen waktu baru yang harus aku kelola. Mengendarai motor di jalan juga mengajariku banyak tentang pengambilan keputusan mendadak di jalan, mulai dari kapan aku harus menambah atau mengurangi kecepatan, bagaiman aku bersikap ketika terjebak macet, bagaimana akalau aku membonceng orang lain, dst…Aku jadi sadar bahwa memang memberikan kepercayaan sebuah kendaraan memang bisa menjadi sebuah terapi alternatif untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab…wah masukan bagus untuk ibu konselor nie…