ATARAXIS
Kosakata ini aku temukan di harian Kompas, pada sebuah artikel tentang tokoh ahli kesehatan jiwa (lupa namanya?!). Ataraxis diambil dari bahasa Yunani yang berarti “ketentraman jiwa”. Kata ini dijadikan nama sebuah jurnal tentang ilmu kesehatan jiwa yang diprakarsai oleh tokoh tersebut. Aku selalu tertarik dengan kosakata-kosakata baru…Sepanjang usiaku yang 25 tahun ini, baru kali ini aku tahu ada kata “ATARAXIS”…dan mungkin masih banyak kata yang aku tidak tahu, dan oleh karena itu aku akan terus mencari untuk belajar…karena aku adalah manusia pembelajar…
Menilik pada makna kata ataraxis, akhirnya ingatanku kembali pada masa-masa kuliah ketika kali pertama aku berkenalan dengan filsafat. Terimakasih tak terhingga kepada Bapak Listiyono Santoso, dosen filsafatku, orang Fakultas Sastra yang mengajar di Psikologi (yang semua orang bilang, beliau orang yang mbulet, tidak jelas, pelit nilainya tapi aku jadi merasa paling nyambung ngomong sama beliau, dan dengan baiknya memberi nilai A untuk semua kuliah filsafat yang total berjumlah 6 SKS, setelah aku berusaha dengan keras menunjukkan bahwa aku memang layak mendapatkan A karena aku belajar dengan sungguh-sungguh).
Ketika belajar tentang filsafat, maka pertanyaan yang sering menjadi awal mula kajian adalah siapa aku dan mau kemana? Pertanyaan tentang siapa aku adalah sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, panjang ceritanya kalau diteruskan. Manusia adalah Homo Viator, sosok yang selalu berusaha mencari jati dirinya. Pertanyaan kedua mungkin lebih mudah dikaji karena terkait sesuatu yang bisa kita rencanakan, usahakan, dan akan kita raih.
Kita mau kemana? Ataraxis bisa menjadi salah satu jawaban untuk pertanyaan ini. Ketentraman jiwa adalah sesuatu yang didambakan sebagian besar orang (kalau tidak boleh bilang semuanya). Semua orang ingin mendapatkannya. Teringat juga, beberapa waktu yang lalu aku memutarkan sebuah film untuk siswa-siswaku : Pursuit of Happiness (Mengejar Kebahagiaan). Semua orang ingin mendapatkan kebahagiaan dan akan berusaha mengejar untuk meraihya. Masalahnya, ketentraman jiwa ataupun kebahagiaan bagi satu orang bisa jadi berbeda dengan orang yang lain. Ada yang berbahagia jika kebutuhannya terpenuhi, ada yang bahagian dengan materi, ada yang bahagia jika dicintai atau mencintai, dan seterusnya.
Lalu jika aku bertanya pada diriku sendiri, apa yang menjadi sebuah ketentraman jiwa bagiku? Apa yang membuat aku bahagia? Meminjam teori Sosiologi tentang Rules and Roles (Aturan dan Peran), maka ada beberapa sudut pandang. Sebagai anak, aku akan berbahagia jika orangtuaku bahagia (jikalau nanti sebagai orangtua, aku akan bahagia jika anakku bahagia). Sebagai seorang guru tentunya aku berbahagia jika murid-muridku berbahagia. Sebagai anggota masyarakat, aku akan berbahagia jika masyarakat di sekitarku berbahagia.
Satu yang agak sulit didefinisikan adalah sebagai individu, aku akan berbahagia jika apa? Untuk pertanyaan yang satu ini, aku teringat sebuah catatan kecil yang pernah aku buat 2 tahun yang lalu. Judulnya Future Map in Five Years. Disitu kutuliskan hal-hal yang ingin kulakukan pada 5 tahun ke depan. Dari tulisan itu, aku mulai merangkai kesimpulan, inilah mungkin beberapa hal yang akan akan mengantarku pada sebuah ketentraman jiwa atau bisa membuatku bahagia, dan ke situlah aku akan menuju.
For parents, I plan to be economically independent, go home more often, bring them travelling, and renovate our house. For career, I plan to be a proffesional school caunselor, make a book, take master degree, build psychological agency, or be lecturer. For citizen, I plan to join NGO for social work, be a consultant for NGO, build kinderganten or school. For personal, I just write : I plan to marry, build my family, and take care of my children. For the last part of these plan, I believe that I will reach happiness through marriage. Like what Allah promises to us in the Holy Quran : Allah create couple for human so they can feel happy (Ar-Rum : 21). So, let me prepare everything that is needed to go there, soon…
January 8th, 2008 at 7:07 am
niy ada beberapa pengalama hidup, yang mungkin sedikit banyak akan menambah varian, variabel terminologi kebahagiaan(agak global sih, dan ini sudut pandang anak FE lhoh….serta rangkuman: ktk Ngaji di Pesantren Mahasiswa Al Hikam/Pondok Pesantren2 yang lain), klo menurutku, org akan bahagia jika dia banyak memberi manfaat bagi lingkunannya. Trusz pas dah merit, punya pasangan hidup yg Sholeh(taat beragama),anak yg penurut,rumah yg teduh & nyaman untuk didiami serta kendaraan yang lancar. Kendaraan ini bs bermakna sebenarnya, ataupun bisa juga bermakna teman, organisasi dll.
Terminologi lain tentang bahagia, adalah bila seseorang itu bisa memadukan 3 hal:
1. Gembira: saat bisa menggunakan logika/akal untuk memecahkan masalah.
2. Senang: terhadap hal-hal yg berbau fisik
3. Tenang: Dengan mengilmui serta mengamalkan ajaran agama
Tapi dari konsep terakhir ini, masih tersisa sau pertanyaan: dimanakah letaknya cinta???
Untuk urusan yg satu ini, aku lebih sepakat dg El Jalaludin Rumi yg kurang lebih inti terminologinya sbg berikut: Mereka yang bisa mendefinisikan cinta adalah mereka yg tidak memahmi cinta.
pendapat ini nyaris sama dg pendapat suami Menteri Peranan Wanita: Bu Meuthia Hatta, yg secara pribadi mengungkapkan bahwa: Love is Undescribable, biarlah mengalir apa adanya(hal ini baliau ungkapkan saat ada acara di Widyaloka Brawijaya)
December 25th, 2008 at 6:49 am
Hey, i save funny photos
here