Dari Keterdesakan Menjadi Kemandirian
Berawal dari sebuah keterdesakan akhirnya menjadi sebuah wadah penggemblengan kemandirian. Keterdesakan itu terjadi kurang lebih 3 bulan yang lalu, ketika aku memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas malam 3 kali seminggu di Masjid Al Akbar Surabaya. Setiap kali pulang menjelang jam 10 malam, hamper selalu dihantui rasa was-was. Pilihan untuk menyewa bejak menuju kosku yang tidak lebih dari 4 kilimeter tetep menyisakan rasa khawatir semenjak tukang becak yang aku minta dating menjemput pada waktu yang telah disepakati tidak datang. Perasaan merugi berikutnya datang ketika aku menghitung pengeluaran yang membengkak hanya untuk memenuhi biaya transportasi itu. Akhirnya, aku mengambil keputusan untuk menggunkan sepeda motor, kebetulan ada satu motor tidak dipakai di rumah Malang sebab Bapakku kerja di luar kota.
Permasalahan naik motor buatku bukan sesuatu yang sederhana. Aku punya trauma berat soal naik motor karena dulu pas SMA, pernah mengalami kecelakaan beberapa kali sewaktu belajar dan akhirnya diputuskan oleh ortuku : aku nggak boleh naik motor. Memang sesekali semasa kuliah aku memberanikan diri naik motor, tapi jantung berdebar, rasa gemetar, dan keringat dingin itu selalu menyertai ketika aku mulai mengendarai motor. Beberapa orang, termasuk konsultan pendidikan yang ada di tempat kerjaku pernah mengatakan : Konselor kita ini belum tuntas tugas perkembangan kemandiriannya sampai dia bisa naik motor…Dan ke-tidak-bisa-an-ku naik motor ini selalu jadi olok-olok karena sebenarnya tugas konselor lah untuk menuntaskan tugas perkembangan anak didiknya.
Akhirnya…berawal dari keterdesakan sering pulang malam itu, aku jadi cukup berani untuk keluar dari zona aman trauma naik motor. Syukur pada Allah bahwa motivasiku untuk belajar ilmu-Nya menjadi kekuatan untuk mengalahkan ketakutan dalam diriku. Akhirnya selama dua bulan ikut kajian tersebut aku melakukan perjalanan dengan naik motor.
Pengalaman berkendara motor ternyata menjadi sesuatu yang luar biasa buatku (buat orang lain biasa kali ya…). Yang jelas aku belajar banyak hal, seperti yang konsultanku katakan, tentang kemandirian dan tanggung jawab. Mengendari motor artinya merawat dan memenuhi kebutuhan motor agar berjalan, mulai dari mengisi bensin, mengganti oli, melakukan servis, mencuci motor, dst…Ada sebuah area manajemen waktu baru yang harus aku kelola. Mengendarai motor di jalan juga mengajariku banyak tentang pengambilan keputusan mendadak di jalan, mulai dari kapan aku harus menambah atau mengurangi kecepatan, bagaiman aku bersikap ketika terjebak macet, bagaimana akalau aku membonceng orang lain, dst…Aku jadi sadar bahwa memang memberikan kepercayaan sebuah kendaraan memang bisa menjadi sebuah terapi alternatif untuk membentuk karakter mandiri dan bertanggung jawab…wah masukan bagus untuk ibu konselor nie…
January 8th, 2008 at 6:35 am
Nyak, sebenarnya akupun sama pernah kecelakaan(tapi ketika naik sepda cowok, tepatnya masa-masa SMA di Kota Lama). Tapi hebatnya ketika baru bisa sepeda cewek, aku langsung membawanya Malang-Pasuruan PP.
Sykur Alhamdulillah, stiap kali ada operasi pihak kepolisian aku tahu dr jarak yg cukup jauh, shg selalu bisa menghindar, dg cara mampir di warung….