Drama Itu Mengalir Dalam Darahmu

Seseorang berkata padaku, seolah-olah dia sudah begitu mengenal dan memahamiku, "Drama itu mengalir dalam darahmu", benarkah ungkap itu? Benarkah dia begitu memahami aku?

Aku suka musik instrumentalia. Kataku, aku suka musik itu karena aku sangat menikmati nada-nada tanpa kata-kata. Aku masih ingat, aku mulai mengenal jenis musik itu ketika usia 13 tahun, semenjak bergabung dengan kelompok Teater Jendela. Musik instrumen sangat sering digunakan sebagai background drama, sandiwara, fragmen, pembacaan puisi, pementasan gerak teaterikal, atau pertunjukan apapun. Musik benar-benar akan menjadi penguat dalam sebuah pertunjukkan, menjadikan pertunjukkan itu hidup, mengukuhkan makna dalam cerita yang disajikan, menjadi kunci suasana menjadi dramatis dan menyentuh hati. Aku berinteraksi dengan musik itu sampai SMA dalam situasi teater juga, hanya ganti komunitas, namanya Teater Kata. Menginjak bangku kuliah, aku masih tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan musik ini, bahkan menemukan sebuah pola bahwa ketika aku bekerja (baca : mengerjakan tugas-tugas kuliah) terasa lebih optimal ketika ditemani musik. Bahkan sampai aku benar-benar bekerja (baca: sering berada di depan komputer) tetap mengoptimalkan diri dengan menggunakan musik instrumen sebagai teman kerja. Dan, sejujurnya, sebelum aku tahu berbagai macam kajian ilmiah tentang manfaar musik instrumen untuk menjadikan proses otak lebih lebih baik, aku sudah amat sangat menikmati musik ini. Apalagi semenjak tahu banyak manfaatnya, semakin kuatlah kebiasaan itu.

Aku suka baca novel, roman, dan sekaligus menonton film drama. Kataku, aku suka itu karena aku sangat tertarik pada kisah-kisah manusia, roman adalah sesuatu yang sangat mempesona bagiku. Aku mengagumi tokoh-tokoh yang ada di dalamnya, karakter-karakter mereka yang unik, sosok-sosok mereka yang berbeda satu sama lain memperkaya sudut pandangku tentang manusia. Aku sering terpesona oleh alur cerita dalam novel atau film itu, sebab alur itu seperti sebuah cerminan realitas yang sesungguhnya, yang bisa jadi bahan refleksi kita tentang apa makna kehidupan. Cerita-cerita yang disajikan dalam bentuk dialog ataupun deskripsi menjadi sesesuatu yang dramatis, romantis, kadang juga tragis. Jalinan peristiwa dalam cerita itu menyajikan berbagai macam emosi yang turut menyentuh emosiku, menjadikan aku belajar banyak tentang empati.

Aku suka menulis. Kataku, aku suka menulis karena aku rasa menulis sudah jadi bagian hidupku. Aku sudah suka menulis sejak aku bisa menulis dengan baik, mungkin umur 7 tahun. Waktu itu aku menulis pengetahuan apapun yang menurutku menarik. Aku lihat peta, aku tulis kembali (dalam bentuk kelompok kata) nama-nama pulau, sungai, gunung, kota, dan semacamnya. Bertambah umur, aku mulai kaya kosakata, dan mulai suka membaca buku cerita dan mendengar cerita di radio, sebagian besar aku tuliskan kembali di buku tulis. Bertambah usiaku, aku mulai bisa menciptakan karya sendiri, puisi seorang remaja yang terinspirasi dari nuansa pubertas tentunya. Memasuki dunia teater, semakin sering menulis terutama dalam bentuk naskah drama dan puisi. Baru ketika menginjak bangku kuliah, aku belajar menulis sesuatu yang lebih ‘berat’, seperti esai, artikel, karya ilmiah, dan berbagai desain proyek pelatihan-penelitian. Ketika bekerja, aku mulai menulis buku…wah keren. Satu cerita yang tersisa, bahwa sejak aku umur 13 tahun sampai umur 23 tahun aku menulis diari atau catatan harian yang menjadi rekaman peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupanku, pemikiran-pemikiran yang berkutat di otakku, dan perasaan-perasaan yang bergelayut dihatiku. Aku menulis catatan harian ini sebagai bentuk ekspresi diri, yang kadangkala memang tidak begitu mudah bagiku mengekspresikan secara verbal atau lisan. Catatan harian ini, tentunya menjadi sebuat potret drama kehidupanku.

Seseorang yang berkata padaku bahwa "Drama itu mengalir dalam darahmu", dia ternyata memang benar-benar mulai bisa mengenal dan memahamiku aku…Katanya, dengan "drama" yang mengalir dalam "darah"ku itu, maka aku jadi seorang pemikir, seorang perasa, seorang yang melankolis, seorang yang mbulet, sulit dipahami jalan pikirannya, susah mengambil keputusan dalam hidup…layaknya sebuah DRAMA…

Terimakasih karena mau memahamiku dan tidak pernah berkehendak untuk memaksaku berubah, meskipun berbeda sedemikian rupa…

One Response to “Drama Itu Mengalir Dalam Darahmu”

  1. Lik Says:

    kebiasaanku menulis termasuk di dalamnya buku harian, LKTI, Laporan proyek, banyak terhenti ketika aku menyandang status college drop out. sekarang sedang merangkak ke arah itu.mungkin karena infrastruktur yg ada g selengkap dulu, shg kebiasaan itu menguap begitu saja. walau sudah ta jadikan agenda, tapi beban kerja yg berat, memaksa aku menafikan “kebiasaan lama” itu

Leave a Reply